OJK mencatat lonjakan utang pinjol jelang tahun ajaran baru. Penyaluran naik 9,38 persen pada Mei jadi Rp28,68 triliun. Pemicunya adalah kebutuhan biaya pendidikan.
__________
Menjelang tahun ajaran baru, utang masyarakat Indonesia ke layanan pinjaman online alias pinjol mengalami lonjakan signifikan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran pembiayaan baru pada Mei 2025 mencapai Rp28,68 triliun—naik 9,38 persen dibanding bulan sebelumnya (month to month/mtm).
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, menyebut lonjakan ini merupakan tren musiman yang berulang setiap pertengahan tahun. Penyebab utamanya: kebutuhan masyarakat membayar biaya pendidikan.
“Tren penyaluran pinjol itu dapat menandakan siklus musiman yang berkaitan dengan kebutuhan khusus seperti biaya sekolah,” kata Agusman dalam siaran pers, Selasa, 5 Agustus 2025.
Fenomena serupa juga terjadi tahun lalu. Pada Mei 2024, penyaluran pinjaman daring (pindar)—istilah baru untuk pinjol—naik 15,69 persen mtm menjadi Rp25,08 triliun.
Secara total, outstanding utang pinjol masyarakat Indonesia hingga Juni 2025 mencapai Rp83,52 triliun. Angka ini mencerminkan pertumbuhan tahunan (year on year/yoy) sebesar 25,06 persen.
Namun, di tengah kenaikan utang, kualitas kredit justru menunjukkan perbaikan. Tingkat wanprestasi di atas 90 hari (TWP90)—indikator kredit macet—turun dari 3,19 persen pada Mei menjadi 2,85 persen pada Juni.
Agusman menilai tren penurunan TWP90 sebagai sinyal positif. “Ini mengindikasikan perbaikan kualitas kredit di sektor pinjaman daring,” ujarnya.
OJK mengingatkan masyarakat untuk tetap berhati-hati dalam mengelola pinjaman daring. Meski akses pinjaman semakin mudah, risiko finansial juga meningkat bila tidak disertai perencanaan yang matang.***



