Bubur Sunan Bonang
Di Kabupaten Tuban, Jawa Timur (Jatim), juga ada tradisi menu bukber yang terus dilestarikan hingga saat ini. Namanya bubur Sunan Bonang. Dilestarikan untuk menghormati jasa Sunan Bonang yang telah mengajarkan Islam di wilayah ini.
Tradisi bubur bonang masih dipelihara di di kompleks makam Sunan Bonang, Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Kota Tuban, Jawa Timur, saat Bulan Ramadhan. Secara teknis, tradisi ini berupa pembagian takjil gratis berupa bubur suruh, atau yang lebih dikenal bubur Sunan Bonang, untuk berbuka puasa.
Tradisi ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam, dan dirawat oleh Yayasan Mabarrot Sunan Bonang.
Bahan dasar bubur Sunan Bonang adalah beras yang dimasak dengan air di atas belanga atau wajan besar, kemudian dicampur air santan dan sejumlah bumbu-bumbu khas Arab.

Produksi bubur Sunan Bonang ini menghabiskan 12 kg beras dan 10 biji kepala setiap harinya. Dengan menggunakan dua belanga berdiameter 100 cm, para juru masak terus mengaduk beras yang sudah dicampur bubuk bumbu resep yang sudah turun temurun hingga matang.
Proses memasaknya sekitar 3 jam, mulai pukul 13.00 WIB. Menjelang shalat Asar, biasanya prosesnya sudah selesai dan langsung dibagikan untuk warga.
Bumbu bubur Sunan Bonang terdiri dari bawang merah, bawang putih, serai, kunyit, bumbu gulai, dan bumbu kebuli. Ada juga bahan tambahan seperti santan kelapa, daging dan balungan (tulang) sapi untuk menambah rasa bubur menjadi lezat.
Untuk menambah aroma sedap takjil bubur Sunan Bonang, proses memasaknya tidak menggunakan kompor gas, tetapi menggunakan api dari kayu bakar. Bubur yang sudah masak dibagikan ke para jemaah Masjid Astana, Kompleks Makam Sunan Bonang, juga untuk warga sekitar dan sejumlah mushala di sekitar Makam Sunan Bonang.◼︎





