Sementara itu, dari Canberra, Australia mengecam keras serangan ini. Pemimpin Partai Hijau Australia menyebutnya sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional”.
“Tindakan ini membahayakan stabilitas global dan membuka kemungkinan eskalasi ke perang penuh,” ujar pemimpin oposisi Australia dalam sesi darurat parlemen, sebagaimana dilansir Reuters.
PBB, meski belum mengeluarkan resolusi resmi, menyampaikan “keprihatinan mendalam” atas tindakan sepihak yang berpotensi merusak upaya diplomasi yang telah dibangun bertahun-tahun sejak Perjanjian Nuklir Iran (JCPOA).
Dunia dalam Cengkeraman Ketegangan
Langkah Amerika ini menandai titik balik berbahaya dalam konflik Timur Tengah.
Jika sebelumnya dunia masih berharap pada negosiasi nuklir, maka 22 Juni dinihari menjadi simbol runtuhnya harapan itu. Apa yang terjadi di Teheran bukan hanya pukulan terhadap infrastruktur Iran, tetapi juga terhadap upaya dunia untuk menjaga perdamaian lewat diplomasi.
Dan di tengah kobaran api serta debu yang membumbung dari reruntuhan Fordow dan Isfahan, dunia bertanya-tanya: apakah ini hanya peringatan—atau awal dari perang yang lebih besar?
Untuk saat ini, satu hal jelas: panggung dunia telah berubah, dan suara ledakan telah menggantikan diplomasi. ***





