Tebuireng hingga Al-Aqsa: Mengingat Kembali Akar Sejarah Hubungan Indonesia dan Palestina

Yang berjalan bersama Bung Karno dan Haji Agus Salim ini adalah dua tokoh Palestina, sahabat sekaligus murid kinasih dari Hadratusyekh KH. Hasyim Asy'ari di Hijaz, yaitu Mufti Muhammad Amin al-Husaini dan Imam Masjidil Aqsa Muhammad Ali Taher. Yang paling belakang KH. Wahid Hasyim. Bung Karno keliling ke Timur Tengah untuk menggalang dukungan atas kemerdekaan bangsa Indonesia -. Dok. Koleksi Pribadi Aguk Irawan MN., diolah ulang menggunakan AI.

Langkah ini sangat mengharukan sekaligus bernilai politis tinggi. Sebuah bangsa yang tengah menderita akibat pendudukan, justru tampil pertama kali naik ke mimbar dunia untuk menyalakan lilin kemerdekaan bagi bangsa lain.

Selain langkah politis Sang Mufti, sejarah juga mencatat pengorbanan sunyi dari seorang saudagar kaya Palestina bernama Muhammad Ali Taher. Nama ini mungkin jarang menghiasi buku teks sejarah di sekolah kita. Namun, Taher membuktikan bahwa solidaritas kemanusiaan tidak mengenal kalkulasi untung-rugi. Ia menyerahkan seluruh simpanannya di Bank Arabia untuk membiayai perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Bagi Taher, kemerdekaan Indonesia adalah kemenangan martabat kemanusiaan. Kedermawanannya mengingatkan kita bahwa kemerdekaan sebuah bangsa tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Republik ini bisa tegak berkat kegigihan pejuang kita yang dikukuhkan oleh kebaikan masyarakat Palestina, doa-doa dari Gaza, serta lobi-lobi tangguh dari Yerusalem.

Bacaan Lainnya
Diplomasi Sutra dan Menagih “Utang Peradaban”

Diplomat ulung Haji Agus Salim, sang “The Grand Old Man”, kemudian meneruskan jalinan diplomasi epik ini. Dengan argumen setajam pedang namun lisan selembut sutra, Agus Salim merangkul para tokoh Timur Tengah bukan sebagai peminta-minta, melainkan sebagai kawan sejawat dalam barisan anti-kolonialisme.

Puncaknya terjadi pada tahun 1955. Mufti Amin menginjakkan kaki di Yogyakarta dan memberikan ceramah di Masjid Gedhe Kauman. Lingkaran sejarah seolah tertutup dengan sempurna: Sang Murid datang mengunjungi tanah air Sang Guru untuk merayakan sebuah kemenangan.

Kini, saat layar kaca menampilkan langit Gaza yang terkoyak mesiu, kita seolah sedang menatap cermin masa lalu. Muncul pertanyaan reflektif: Akankah Indonesia terus berdiri tegak di forum internasional untuk memperjuangkan solusi dua negara (two-state solution)? Langkah Indonesia bergabung dengan berbagai aliansi dan blok kerja sama global saat ini seharusnya menjadi panggung strategis untuk membayar “utang peradaban” tersebut.

Pos terkait