Tas Anti-Flexing, Etika Baru Istri ASN Surabaya

Launching Toko DWP Surabaya, yang salah satu produknya adala tas anti-flexing. - Samudrafakta
Di tengah budaya pamer yang kian mencolok, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Surabaya memilih jalan sebaliknya: menegaskan kesederhanaan sebagai sikap, bukan sekadar gaya.

Puncak peringatan HUT ke-26 DWP Kota Surabaya, Rabu (17/12/2025), ditandai dengan peluncuran tas anti-flexing—sebuah simbol komitmen moral untuk menahan diri dari praktik pamer kemewahan di lingkungan istri Aparatur Sipil Negara (ASN). Tas berlogo Dharma Wanita ini bukan hanya aksesori, melainkan penanda nilai yang ingin dijaga bersama.

Penasihat DWP Kota Surabaya, Rini Indriyani, menyebut tas tersebut sebagai upaya konkret menghindari perilaku flexing yang berpotensi merusak marwah keluarga ASN. “Tas logo itu bisa menghindari kita dari flexing,” ujarnya. Pesan itu, kata Rini, telah ia sampaikan sejak awal mendampingi Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi: menjaga kehormatan suami dimulai dari pilihan sederhana.

Kesederhanaan sebagai Sikap Publik

Prinsip itu diterapkan tegas dalam ruang resmi pemerintahan. Rini menegaskan, penggunaan barang bermerek tertentu tidak diperkenankan dalam kegiatan Pemkot Surabaya. “Kalau acara di kantor, acara pemerintahan kota, wajib hukumnya untuk tidak menggunakan barang-barang branded tertentu,” katanya. Di luar kegiatan resmi, pilihan personal tetap dihormati.

Bacaan Lainnya

Lebih dari sekadar larangan, tas anti-flexing ini membawa pesan tandingan: produk lokal layak menjadi kebanggaan. Rini menilai tas buatan UMKM Surabaya memiliki kualitas dan estetika yang tak kalah dari merek ternama. “Tas lokal kita juga bagus-bagus, tidak kalah kerennya,” ujarnya, menekankan bahwa nilai sebuah barang tidak selalu ditentukan oleh label harga.

Ketua DWP Kota Surabaya, Dameria Triana Ambuwaru Lilik Arijanto, mengungkapkan bahwa gagasan tas anti-flexing sepenuhnya berasal dari Rini. Ide itu kemudian diwujudkan melalui kolaborasi dengan UMKM lokal. Tas diproduksi dengan desain sederhana, bahan terjamin, dan harga terjangkau agar mudah diakses anggota DWP.

Langkah ini menempatkan DWP Surabaya di persimpangan antara etika sosial dan pemberdayaan ekonomi. Kampanye anti-flexing tidak berhenti sebagai slogan, tetapi hadir dalam bentuk produk nyata yang sekaligus menghidupkan UMKM.

Pos terkait