Dalam satu tahun, 12 universitas atau 12 rumah sakit megah bisa berdiri tegak. Dalam waktu 10 tahun, NU akan memiliki 120 universitas atau rumah sakit baru. Potensi kekuatan finansial yang sangat dahsyat!
Perhitungan tersebut hanya menggunakan asumsi nilai infaq paling minimal. Jika ada masyarakat yang berinfaq lebih besar, potensinya tentu akan berlipat ganda. Kuncinya ada pada keseriusan, ketertiban administrasi, dan transparansi pelaporan. Jika tiga pilar tersebut terwujud, para saudagar dan dermawan pasti akan berlomba-lomba menitipkan hartanya untuk membantu program NU.
Mewujudkan hal ini bukanlah misi yang mustahil. Syarat utamanya adalah niat yang kuat, perencanaan matang, dan terjaganya kepercayaan publik (trust). Jika banyak pihak menganggap wacana ini sebagai mimpi, maka ini sesungguhnya adalah mimpi yang paling mudah untuk diwujudkan menjadi kenyataan.
Momentum Transformasi Kepemimpinan
Muktamar NU pada bulan Agustus mendatang wajib menjadi momentum krusial untuk melahirkan figur pemimpin yang mampu menelurkan terobosan-terobosan cemerlang. NU saat ini membutuhkan nakhoda yang berani berpikir out of the box, tidak hanya terpaku pada ritme kerja yang linier dan normatif.
NU membutuhkan sosok pemimpin yang mau dan siap melakukan perubahan drastis sekaligus fundamental. Fokus utamanya harus diarahkan pada pembenahan aspek manajemen tata kelola, perluasan jaringan pendidikan, dan peningkatan layanan kesehatan.
Satu hal yang harus selalu menjadi pengingat bersama: NU bukan lahan untuk mencari nafkah, bukan lokomotif untuk meniti karier politik, dan sama sekali bukan panggung teatrikal untuk memproduksi kontroversi publik. NU adalah jam’iyah besar yang dilahirkan oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari dengan tujuan murni untuk mengabdi kepada Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebagai pilar pendorong nilai rahmatan lil-alamin, NU harus sungguh-sungguh hadir menjadi lokomotif perubahan sekaligus penggerak kemajuan umat dan bangsa secara keseluruhan.





