Sunan Bonang (2): Pasang-Surut Dakwah Hingga ke Indonesia Timur

Sejak dari Tuban itu pula wilayah dakwah Sunan Bonang berkembang semakin luas hingga ke luar Jawa. Bambang Sulistyo, dalam Malay Emigrants and Their Islamic Missions in South Sulawesi in 16 th to 17 th century, Tawarikh: International Journal for Historical Studies 6, No. 1 (Oct. 2014), hal. 57-62, menuliskan bahwa wilayah dakwah Sunan Bonang menjangkau hingga Pahang, Johor, Pattani, dan Champa. Menurut Bambang, dakwah tersebut berlangsung bersamaan dengan terjadinya krisis politik setelah keruntuhan Kesultanan Demak.

Orientasi dakwah Wali Songo pasca-Kerajaan Demak adalah dakwah Islam ke luar Jawa. Maka, dikirimlah tiga orang santri Sunan Bonang ke luar Jawa. Mereka adalah Khatib Tunggal atau Datuk Ri Bandang, yang ditugaskan ke Makassar, Timor, Seram, dan Selayar; Khatib Bungsu atau Datuk Tiro dikirim ke Bulukumba, Ternate; dan Khatib Sulaiman bertugas memperluas jangkauan dakwah ke Lombok, Bali dan Sumbawa. Sementara itu, dalam Hikayat Tanah Hitu, disebutkan ada tiga orang dari Tuban yang mengislamkan orang Maluku.

Menurut laporan Tome Pires, pada tahun 1514 sisa-sisa pasukan Majapahit yang ada di Daha menyerang wilayah pesisir utara Jawa—di mana Tuban merupakan salah satu pusat keramaian di wilayah tersebut. Naskah Gresik juga menyebutkan peristiwa tersebut. Karena serangan tersebut, para pendakwah di Tuban sempat menyingkir ke Indonesia Timur, bertebaran hingga ke Makasar dan Maluku dan berdakwah di sana. Sedangkan Hikayat Tanah Hitu menerangkan, setelah Islam masuk ke Makasar dan Maluku, termasuk Hitu, banyak masyarakatnya yang kemudian belajar Islam ke Tuban, Gresik, dan Jepara.

Bacaan Lainnya

Menurut catatan Sadjarah Dalem, Sunan Bonang tidak menikah sampai wafatnya. Carita Lasem juga menggambarkan bahwa Sunan Bonang tidak memiliki istri. Dalam Babad Tanah Jawi pun tidak disebut adanya istri dan putra dari Sunan Bonang. Namun, ada versi lain yang menyebutkan bahwa Sunan Bonang menikah dengan Dewi Hirah, putri dari Raden Jakandar. Dari pernikahan itu dikaruniai tiga anak, yaitu Dewi Ruhil, Jayeng Katon, dan Jayeng Rono

Sementara itu, setidaknya ada empat lokasi yang diyakini sebagai makam Sunan Bonang. Lokasi pertama—dan ini yang paling terkenal—terletak di kompleks pemakaman Desa Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kota Tuban, di sebelah barat alun-alun Tuban, sebelah barat Masjid Agung Tuban.

Makam Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur. (Dok.)

Makam kedua terletak di sebuah bukit di pantai utara Jawa, antara Rembang dan Lasem. Akan tetapi, tidak sedikit orang yang menyebut tempat ini hanyalah petilasan dengan sebutan Mbonang. Tempat ini berupa batu yang diyakini menjadi tempat shalat Sunan Bonang—di mana ada jejak kaki yang diyakin sebagai jejak Sang Sunan di situ.

Tempat ketiga berada di Tambak Kramat, Pulau Bawean, Jawa Timur. Di pulau ini ada dua makam yang dipercaya sebagai makam Sunan Bonang. Makam keempat ada di Singkal, tepi Kali Brantas, Kabupaten Kediri. Terlepas dari mana yang paling tepat, keempat lokasi makam ini sama-sama banyak diziarahi banyak orang.[—bersambung]

(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)

 

 

Pos terkait