Sunan Bonang (2): Pasang-Surut Dakwah Hingga ke Indonesia Timur

Nyai Gede Maloka dikisahkan meminta Sunan Bonang agar merawat makam nenek mereka yang berasal Champa, yaitu putri Bi Nang Ti, di Puthuk Regol, Lasem. Sunan Bonang juga diminta merawat makam Pangeran Wirabajra dan putranya, Pangeran Wiranagara, mendiang ayah mertua dan suami Nyai Gede Maloka. Naskah Carita Lasem menuturkan bagaimana berbaktinya Sunan Bonang merawat makam neneknya yang asal Champa itu.

Dari sanalah perspektif Sunan Bonang terkait dakwah Islam berubah, dari yang tadinya cenderung keras menjadi lebih kompromistis. Dia belajar dari kegagalan di Kediri. Sunan Bonang pun mulai memanfaatkan wahana kesenian dan kebudayaan guna lebih menarik simpati masyarakat. Dalam buku Atlas Wali Songo, sejarawan Agus Sunyoto menerangkan bahwa Sunan Bonang dikenal sebagai penggubah tembang-tembang Jawa dan menjadikannya sebagai sarana untuk berdakwah.

Tugas Sunan Bonang merawat makam neneknya di Puthuk Regol melahirkan legenda tentang petilasan pesujudan di bukit Watu Layar, timur Kota Lasem, di tempat yang kini dikenal dengan nama Desa Bonang. Di situ Sunan Bonang membangun sebuah zawiyah, yang secara harfiah bermakna “pojok”, yaitu semacam tempat khusus untuk khalwat. Di tempat itu pula para pengamal ajaran tasawuf bertemu.

Bacaan Lainnya

Masih menurut naskah Carita Lasem, Sunan Bonang dijadikan wali negara Tuban pada usia 30 tahun. Tugasnya adalah mengurus berbagai hal menyangkut Agama Islam. Sejak saat itulah Sunan Bonang sering terlihat di Tuban.

Sejak berdakwah di Tuban, menurut catatan Ahmad Baso, Sunan Bonang menyebut murid-muridnya dengan sebutan mitra. Dia mempoisisikan murid-murid dari para wali sebagai keluarga sendiri. Sebuah penanda bahwa Sunan Bonang alias Mahdum Ibrahim mulai menggunakan pendekatan yang egaliter dalam dakwahnya.

Pos terkait