Sukarno dan Bulan Muharram (1): Menghormati Muharram karena Kagum terhadap Perjuangan Muhammad dan Husein

“Husein adalah panji berkibar yang diusung oleh setiap orang yang menentang kesombongan di zamannya, di mana kekuasaan itu telah tenggelam dalam kelezatan dunia serta meninggalkan rakyatnya dalam penindasan dan kekejaman,” tulis Sukarno dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi. Ia menulis itu untuk menegaskan roh revolusi Pancasila yang diusungnya.

Ketua Lembaga Pemikiran Islam Bung Karno (LPI-BK) Habib Ali Assegaf menilai bahwa perjuangan Husein bin Ali dan Sukarno sama-sama berlandaskan satu hal, yakni keberanian melawan kezaliman.  Peristiwa Karbala itu, menurut Habib Ali Aseegaf, adalah sekolah untuk para pemberani.

Husein dan para pengikutnya, kata Habib Assegaf, adalah pemberani. Sementara Bangsa Indonesia juga pernah melahirkan pemberani, yakni Sukarno.  Ketegasan Sukarno menentang kolonialisme dan imperialisme, menurut Habib Ali, adalah keberanian.

Bacaan Lainnya

Menurut Zuhairi Misrawi, Dubes RI untuk Tunisia, Sukarno pernah berziarah ke Karbala pada 1960. Ia menjadikan Imam Husein sebagai sosok inspiratif, karena perjuangannya telah menginspirasi para pemimpin dunia, termasuk Mahatma Gandhi dalam melawan imperialisme dan memperjuangkan kemanusiaan, kata Zuhairi.

Sedangkan Sigit Aris Prasetyo, dalam buku Dunia dalam Genggaman Bung Karno Jilid 2 menulis, Sukarno berkunjung ke Irak, pada 2-4 April 1960, saat Irak dipimpin oleh Jenderal Karim Qassim. Menurut Sigit, Sukarno juga dikabarkan mengunjungi makam Husein bin Ali di Karbala—di barat daya Kota Baghdad. (…bersambung…)

(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)

Pos terkait