Transformasi peradaban yang dicontohkan Nabi di Madinah tidak dibangun dengan ritual peribadatan, melainkan dengan nilai-nilai kemanusian universal. Nabi selalu menekankan semangat musyawarah, gotong royong, persaudaraan sejati, kebijaksanaan, dan kesetiaan. Itu semua adalah pilar-pilar kehidupan harmonis yang hanya bisa dicapai dengan melepas egoisme, mengutamakan kepentingan bersama, serta jujur dan menyebarkan cinta kasih.
Keberhasilan Nabi membangun peradaban di Madinah inilah yang membuat Sukarno kagum. Karena itu pula Sukarno mengagumi Nabi Muhammad—terutama terkait dampak positif yang ditumbuhkan oleh Nabi dalam peristiwa hijrah. Sukarno pun bermaksud untuk meneladani metode Nabi dan nilai-nilai yang dibawanya dalam peristiwa hijrah dalam membangun Indonesia yang bhinneka.
Sukarno ingin agar masyarakat Indonesia juga mau berhijrah: hijrah dari masyarakat bermental inlander tertindas dan minder karena pengalaman buruk masa penjajahan—sebagaimana karakter masyarakat Mekkah di awal dakwah Nabi Muhammad—menjadi masyarakat bermental merdeka layaknya masyarakat Madinah.
Semangat Husein bin Ali
Sukarno menaruh rasa hormat terhadap bulan Muharram. Dia menganggap bulan ini sakral dan keramat karena Nabi Muhammad berhijrah di bulan ini, di mana peristiwa tersebut pada akhirnya melahirkan sebuah konsep kemasyarakatan yang luar biasa.
Selain itu, Sukarno menghormati Muharram karena dia juga melihat semangat positif lain yang juga terjadi di bulan ini, yaitu semangat yang muncul peristiwa perjuangan Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad.
Sebagaimana yang tercatat dalam sejarah, pada bulan Muharram—atau bulan Asyura—61 Hijriyah, terjadi tragedi berdarah yang menyebabkan terbunuhnya Husein bin. Peristiwa yang terjadi pada hari kesepuluh bulan Muharram ini dikenal dengan Tragedi Karbala.
Dalam pandangan Sukarno, kendati menyakitkan, namun peristiwa itu membawa semangat yang luar biasa, yaitu semangat perlawanan Husein terhadap penindasan. Semangat itulah yang menjadi booster semangat perjuangannya. Sukarno pun mengeklaim bahwa perjuangannya melawan penindasan kolonialisme dan imperialisme salah satunya diilhami oleh perjuangan cucu Nabi Muhammad tersebut.





