Sukarno dan Bulan Muharram (1): Menghormati Muharram karena Kagum terhadap Perjuangan Muhammad dan Husein

Sejarah memang mencatat bahwa Nabi Muhammad berhasil membangun karakter masyarakat yang inklusif di Madinah. Menurut Dr. Muhammad Nursamad Kamba—doktor tasawuf lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir—Nabi berhasil karena menerapkan metodologi dan pendekatan dakwah yang sangat cerdas—terutama setelah berhijrah ke Madinah.

Sebelum hijrah, Muhammad harus melalui perjuangan yang panjang. Selama kurang lebih satu dasawarsa Muhammadberusaha keras menjelaskan tauhid kepada penduduk Mekkah, namun hasilnya tidak signifikan. Pasalnya, menurut Nursamad Kamba, penduduk Mekkah adalah manusia-manusia materialistik yang sulit memahami dimensi-dimensi ideologis yang diajarkan Nabi—seperti nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan. Orang Mekkah selalu mempertanyakanbuat apa Muhammad mengajarkan persauda­raan sesama manusia di luar hubungan darah dan suku bangsa.

Sementara, setelah hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad bisa memberikan contoh kon­kret bagaimana konstruksi dan struktur masyarakat  yang sesungguhnya diinginkan Islam. Nabi mencontohkan bagaimana cara agar manusia hidup saling mengasihi dan saling mengerti, bersatu membangun dan mempertahankan kedaulatan Madinah.

Bacaan Lainnya

Nabi Muhammad pun berhasil menanamkan kesadaran itu kepada masyarakat Madinah. Karena pemahaman itu pula Nabi Muhammad berhasil merangkul seluruh elemen masyarakat Madinah—baik yang Muslim maupun bukan—sehingga berhasil membangun basis keku­atan politik, ekonomi, dan militer yang tak tertandingi di semenanjung Arabia. Semua itu adalah berkah dari upaya hijrah yang sesungguhnya.

Menurut Nursamad Kamba, esensi hijrah adalah meninggalkan pendekatan ideologis tekstual menjadi realistis konstekstual. Nabi Muhammad memberi contoh tentang bagaimana cara untuk menjalankan kehidupan bermasyarakat di Madinah, yaitu dengan saling bantu dan mengamankan antar-sesama.

Nabi Muhammad menata masyarakat dengan mendayagunakan segala potensi kemanusiaannya, yaitu rasio, ketajaman akal pikiran, nurani, dan spiritualitas. Nabi menerapkan strategi simpatik dengan mengajak suku-suku di sekitar Madinah untuk saling mengamankan—bukannya memaksa agar semuanya mengikuti agama yang beliau bawa.

Pada masa Nabi Muhammad masih hidup, tidak ada parade tren syar’i yang kaku dan tekstual di Madinah. Nabi mengajarkan agar masyarakat—terutama Muslim—menggunakan nurani sebagai panduan hidup, bukannya dalil-dalil tekstual.

Sebagai informasi, konsep syariat menjadi baku 1,5 abad setelah Nabi Muhammad wafat. Di masa Nabi hidup, tidak ada lembaga formal syariah di Madinah.

Pos terkait