Angkanya tidak kecil. Jika 20 juta barel minyak melintas setiap hari dengan tarif USD2 juta per kapal, Iran bisa meraup lebih dari USD800 juta sebulan — setara pendapatan Mesir dari Terusan Suez dalam setahun penuh.
Trump mengakui gaya negosiasi Iran terasa “aneh” dan sulit ia tebak. Dalam wawancara dengan Financial Times, ia memang sesekali melontarkan ancaman merebut Pulau Kharg, tapi di saat yang sama mengklaim perundingan berjalan “sangat baik.” Pasar tidak percaya. Harga minyak tetap tinggi.
Eropa, Jepang, dan Asia Mulai Berhitung Sendiri
UEA dan Arab Saudi cemas melihat Iran berpotensi mengendalikan de facto seluruh jalur ekspor energi Teluk. Tapi mereka juga tahu: serangan balasan Iran ke infrastruktur minyak atau fasilitas air bersih mereka bisa menghancurkan ekonomi dalam jangka panjang. Membayar tuntutan Iran mungkin lebih aman.
Yang lebih mengejutkan, sekutu dekat AS mulai mengambil jalur pragmatis sendiri. Pakistan sudah berhasil mengamankan akses 20 kapalnya lewat Selat Hormuz setelah bernegosiasi langsung dengan Teheran. Jepang dan Eropa — yang hubungannya dengan pemerintahan Trump sedang di titik terendah — mulai mempertimbangkan langkah serupa.
Menghadapi lonjakan energi atau kembali bergantung pada gas Rusia, keduanya bukan pilihan yang menarik.
Pesan dari Euronews cukup gamblang: dunia sedang bergerak ke arah kesepakatan dengan Iran, bukan karena ingin, tapi karena tidak ada jalan lain yang lebih masuk akal.***





