Simulasi struktur menunjukkan sambungan saling mengunci dan konstruksi kayu Rumah Bolon mampu membatasi deformasi ketika menerima beban gempa.
Rumah Bolon Batak Toba dibangun tanpa paku dan tidak menanam tiang kayunya ke dalam tanah. Cara tersebut bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan bagian dari sistem struktur yang membuat bangunan dapat bergerak saat diguncang gempa.
Penelitian empat akademikus Universitas Brawijaya pada 2025 menemukan bahwa struktur, konstruksi, dan sambungan Rumah Bolon mampu mendistribusikan gaya gempa melalui prinsip saling mengunci.
Andika Citraningrum, Agung Murti Nugroho, Togi Riris Siagian, dan Wasiska Iyati menguji sistem tersebut melalui observasi lapangan serta simulasi numerik menggunakan perangkat lunak SAP2000.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen struktur, konstruksi, dan sambungan Rumah Bolon mampu mendistribusikan gaya gempa secara efektif melalui penerapan prinsip interlocking pada bagian badan dan adanya ikatan angin silang pada bagian atap,” tulis para peneliti.
Simulasi mencatat defleksi maksimum akibat gabungan beban mati, beban hidup, dan beban gempa sebesar 0,003 sentimeter. Angka itu berada di bawah batas 0,6 sentimeter yang digunakan para peneliti berdasarkan SNI 03-1729-2002.
Sambungan Tidak Dibuat Kaku
Rumah Bolon mengandalkan sambungan pasak, ikatan, dan pertemuan antarkomponen yang saling mengunci. Sistem ini memungkinkan bagian bangunan mengalami pergerakan terbatas ketika menerima gaya horizontal.
Kelenturan tersebut berbeda dengan bangunan yang seluruh sambungannya dibuat kaku. Ketika tanah bergerak, energi tidak hanya terkonsentrasi pada satu titik sambungan, tetapi disalurkan ke sejumlah elemen struktur.
Pada bagian atap, kestabilan diperkuat oleh ikatan angin silang. Elemen tersebut membantu menahan perubahan bentuk bangunan akibat gaya dari arah samping.
Penelitian itu juga menemukan beban mati menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi deformasi. Namun, sistem sambungan tradisional dinilai tetap mampu menjaga kestabilan struktur ketika berbagai beban bekerja secara bersamaan.
Konstruksi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan Rumah Bolon tidak bertumpu pada satu unsur. Kinerjanya terbentuk melalui hubungan antara material kayu, sistem rangka, sambungan, dan konfigurasi keseluruhan bangunan.
Hasil Simulasi Berbeda
Penelitian lain yang diterbitkan dalam IOP Conference Series: Materials Science and Engineering pada 2020 juga menguji ketahanan Rumah Bolon terhadap gempa.
Kajian terhadap Rumah Bolon di Huta Siallagan mencatat periode alami struktur 0,494 detik, gaya geser akibat gempa 28,87 kilonewton, dan perpindahan lantai maksimum 4,01 sentimeter.
Peneliti menyatakan sifat mekanis kayu yang digunakan memenuhi spesifikasi konstruksi kayu dalam SNI 7973:2013. Konsep strukturnya juga dinilai memenuhi ketentuan ketahanan gempa dalam SNI 03-1726-2012.
Perbedaan hasil perpindahan antara penelitian 2020 dan 2025 tidak dapat dibandingkan secara langsung tanpa melihat model bangunan, pembebanan, lokasi penelitian, asumsi sambungan, dan metode simulasi masing-masing.
Kajian 2025 juga belum berarti seluruh Rumah Bolon otomatis aman menghadapi setiap gempa. Kondisi kayu, perubahan bangunan, mutu sambungan, perawatan, serta karakter tanah tetap memengaruhi kinerja struktur di lapangan.
Para peneliti menilai prinsip arsitektur Batak Toba berpotensi menjadi referensi mitigasi gempa berbasis budaya. Penerapannya pada bangunan lain tetap harus disesuaikan dengan lingkungan, kondisi geoteknik, dan standar konstruksi yang berlaku.
“Adaptasi desain menjadi kunci agar strategi ini dapat diterapkan secara kontekstual dan berkelanjutan,” tulis mereka.***





