Presiden Pezeshkian dan pejabat senior Iran ikut turun ke jalan merayakan Hari Republik Islam. Sementara AS mengebom bekas gedung kedutaannya sendiri di Teheran.
Bom masih berjatuhan, tapi rakyat pendukung pemerintah Iran justru memenuhi jalanan. Pada Selasa malam (1/4/2026), ribuan orang turun ke jalan-jalan Teheran dan kota-kota lain untuk memperingati Hari Republik Islam — hari ketika 47 tahun lalu Iran memilih menjadi republik teokratis dengan 98,2 persen suara.
Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi membaur langsung dengan massa, berfoto selfie di tengah kerumunan. Hassan Khomeini, putra pendiri Revolusi Islam, berseru bahwa mereka wajib tetap di jalanan setiap malam hingga perang berakhir, “tidak peduli berapa lama.”
Sesaat setelah perayaan, Washington mengebom bekas gedung kedutaan AS di Teheran — sebuah serangan yang tampaknya sengaja dipilih waktunya untuk merespons simbolisme Hari Republik Islam.
Defiance dan Ancaman Invasi Darat
Di hari yang sama, bendera Iran setinggi 150 meter seberat 300 kilogram dikibarkan di pusat kota Teheran — simbol perlawanan yang tidak bisa lebih eksplisit.





