Kepolisian Iran menegaskan negara ini “berada di ambang kemenangan akhir antara kekuatan kebaikan melawan kejahatan.” IRGC merilis video dalam empat bahasa — Farsi, Inggris, Ibrani, dan Arab — dengan pesan singkat namun tajam: “Kami menunggu kedatangan kalian.”
Militer Iran menyatakan sudah melatih skenario invasi darat AS sejak 2001. Ahmad Reza Pourdastan, kepala pusat riset angkatan darat Iran, memperingatkan bahwa setiap agresi akan berhadapan dengan “korban jiwa yang sangat besar.”
Yang menarik, pasukan milisi Irak dari Hashd al-Shaabi juga terlihat berbaur di jalanan Teheran dan wilayah barat daya Iran — diklaim sebagai misi kemanusiaan, tapi kehadirannya mempertegas luasnya jaringan dukungan regional yang dimiliki Iran di tengah perang ini.
Teheran dalam Kegelapan Informasi
Di balik suasana perayaan resmi, warga Tehran menjalani hari-hari yang berat. Pemadaman internet hampir total sudah berlangsung lebih dari sebulan. Seorang warga Teheran bercerita kepada Al Jazeera bahwa ia sudah menghabiskan hampir USD300 hanya untuk membeli akses VPN — setara dua bulan upah minimum — sementara inflasi melampaui 70 persen.
Otoritas Iran mengingatkan bahwa siapa pun yang merekam lokasi dampak serangan rudal bisa dijerat dakwaan keamanan nasional, dengan ancaman hukuman mulai dari penyitaan aset hingga hukuman mati.
Perang memasuki hari ke-33. Teheran bersulang pada Revolusi 1979. Tapi di bawah lampu perayaan, jutaan warganya masih menutup telinga menanti suara jet tempur yang datang dari utara dan barat.***





