Daftar Merah yang diperbarui juga menyoroti keberhasilan upaya konservasi, seperti yang terlihat pada kijang bertanduk pedang, yang telah berkembang dari ‘punah di alam liar’ setidaknya menjadi ‘terancam punah’ berkat keberhasilan reintroduksi di Chad.
Demikian pula kijang saiga yang sebelumnya ‘sangat terancam punah’ telah meningkat menjadi ‘hampir terancam’ setelah populasinya meningkat sebesar 1.100% hanya dalam tujuh tahun, terutama di Kazakhstan, karena tindakan anti-perburuan liar yang ketat.
Namun, kedua spesies ini masih menghadapi ancaman perubahan iklim yang semakin besar di wilayah masing-masing. Kijang tersebut menghadapi peningkatan kekeringan di wilayah Sahel di Afrika, dan antelop yang mengalami ‘kematian massal’ pada tahun 2015 akibat suhu dan kelembapan ekstrem.
Dampak Iklim Terhadap Spesies Ikan
Secara global, seperempat spesies ikan air tawar beresiko punah karena pemanasan suhu, penangkapan ikan berlebihan dan polusi.
Penilaian tersebut mencakup ikan lele raksasa Mekong di China yang sulit ditangkap, yang populasinya berada di bawah tekanan karena pembangunan bendungan dan penangkapan ikan berlebihan di wilayah Mekong Bawah, serta salmon Atlantik yang mengalami penurunan sebesar 23% antara tahun 2006 hingga 2020.
Perubahan iklim berdampak pada setidaknya 17% spesies ikan air tawar yang terancam punah, yang menyebabkan penurunan permukaan air, intrusi air laut ke sungai karena kenaikan permukaan laut, dan perubahan musim.
“Perubahan iklim berinteraksi dengan ancaman-ancaman lain, dan biasanya ancaman-ancaman lain itulah yang mendorong spesies semakin terancam punah dan membuat mereka punah, bukan perubahan iklim itu sendiri,” kata Hilton-Taylor dari IUCN.
Ancaman-ancaman ini termasuk polusi yang berdampak pada 57 persen ikan air tawar yang terancam punah, bendungan dan pengambilan air (45 persen), penangkapan ikan berlebihan yang mengancam (25 persen), serta spesies invasif dan penyakit yang merugikan (33 persen).



