Meski kerap dianggap sama, ikan nila dan mujair punya perbedaan mencolok—dari bentuk tubuh, warna, hingga cara berkembang biak.
__________
Ikan nila (Oreochromis niloticus) dan mujair (Oreochromis mossambicus) memang berasal dari keluarga yang sama, Cichlidae, dan sama-sama digemari oleh pembudidaya serta konsumen. Tapi kalau diamati lebih dekat, keduanya punya banyak perbedaan penting.
Perbedaan Bentuk dan Warna
Ikan nila bertubuh bulat pipih dengan punggung tinggi dan sisik besar yang kasar. Warna tubuhnya dominan abu-abu kehitaman. Ciri khas lain adalah garis-garis vertikal pada sirip ekor dan punggung, serta mata besar yang menonjol.
Sementara itu, mujair memiliki warna tubuh yang lebih bervariasi. Sirip punggungnya berwarna gelap dengan ujung kemerahan. Saat musim kawin, mujair jantan akan berubah drastis: kepala atas cekung dan gelap, bagian bawahnya putih. Mujair muda dan betina biasanya punya pola belang di tengah tubuhnya.
Selain itu, struktur sirip dan sisik keduanya juga berbeda. Ikan nila punya sirip dada runcing, sedangkan sirip punggung dan duburnya tumpul. Mujair memiliki gigi faring halus dan rahang yang lebih khas, terutama pada jantan dewasa.
Reproduksi: Siapa yang Lebih Cepat?
Dalam urusan berkembang biak, ikan nila dikenal sangat produktif. Mereka bisa memijah tiap dua minggu dan melakukannya berulang kali sebelum mengalami rematurasi. Jantan membuat sarang, betina meletakkan telur, lalu telur dierami dalam mulut (mouthbrooding). Ini membuat burayak lebih terlindungi dari predator.
Mujair juga mouthbrooder, tetapi masa penjagaan burayaknya lebih singkat, sekitar satu minggu. Jumlah telurnya bisa mencapai 1.775 butir. Keunggulan lain mujair adalah kemampuannya bertahan di air dengan salinitas tinggi, antara 35–49 ppt. Ini membuat mujair lebih fleksibel dibudidayakan di daerah pesisir atau muara.
Habitat dan Adaptasi
Ikan nila lebih menyukai perairan tawar yang tenang seperti danau, waduk, dan sungai, dengan suhu ideal 25–30°C dan pH netral. Namun, karena pertumbuhannya cepat dan mudah beradaptasi, nila sering dianggap sebagai spesies invasif.





