Dunia maya tengah diramaikan oleh fenomena “S-Line” yang viral berkat drama Korea terbaru. Tapi hati-hati, jangan sampai keliru. “S-Line” punya dua arti yang berbeda, dan salah satunya sedang jadi perbincangan hangat karena menyentuh isu sensitif. Apa maksudnya?
_________________
Pertama, istilah “S-Line” sudah lama dikenal dalam dunia kecantikan, khususnya di Korea Selatan. Di ranah ini, S-Line merujuk pada bentuk tubuh ideal yang lekukannya menyerupai huruf “S” jika dilihat dari samping. Ciri-cirinya: pinggang ramping, dada dan pinggul yang proporsional, menyerupai jam pasir. Banyak orang mengejar bentuk tubuh ini lewat diet ketat, olahraga, bahkan prosedur operasi plastik.
Namun, belakangan istilah ini kembali mencuat karena kemunculannya dalam drama Korea bertajuk S Line. Di serial ini, S-Line bukan lagi soal bentuk tubuh, melainkan garis merah misterius yang muncul di atas kepala seseorang sebagai tanda bahwa ia pernah melakukan hubungan seksual. Garis itu tak bisa dilihat sembarang orang, kecuali oleh tokoh utama atau mereka yang memakai kacamata khusus. Dan garis tersebut langsung terhubung ke orang-orang yang pernah punya hubungan intim dengan individu tersebut.
Konsep ini memang fiksi. Tapi dampaknya nyata, bahkan menuai reaksi dari kalangan akademisi di Indonesia.
Salah satunya datang dari dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya, M. Febriyanto Firman Wijaya. Ia menilai bahwa drama ini menyelipkan pesan berbahaya jika ditelan mentah-mentah oleh masyarakat.
“Konsep garis merah ini, meskipun fiktif, seolah memberi pembenaran bahwa aib seseorang bisa diumbar ke publik. Ini sangat berbahaya karena menormalisasi pelanggaran privasi dan membuka ruang penghakiman sosial,” ujarnya dikutip dari laman UM Surabaya, Ahad, 20 Juli 2025.
Menurutnya, jika konsep ini dianggap wajar, bisa-bisa publik terbiasa menghakimi orang lain hanya berdasarkan informasi sepihak. Padahal, dalam ajaran Islam, menjaga aib orang lain adalah hal yang sangat dijunjung tinggi.





