Tiga pakar teknik elektro membongkar lima kebiasaan boros listrik, yang bikin tagihan PLN membengkak. Salah satunya: TV yang menyala saat tidak ditonton.
__________
Kebiasaan boros listrik masih menjadi masalah laten di rumah tangga Indonesia. Banyak orang tidak sadar bahwa perilaku sehari-hari yang tampaknya sepele justru menyumbang lonjakan tagihan listrik bulanan.
Tiga dosen teknik elektro—Toto Sukisno dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), serta Syarif Hidayat dan Deny Hamdani dari Institut Teknologi Bandung (ITB)—sepakat bahwa kesadaran masyarakat terhadap penggunaan energi listrik masih minim.
Mereka mengingatkan bahwa membiarkan alat elektronik dalam kondisi menyala atau standby bisa menyebabkan pemborosan energi yang besar.
“Kebanyakan orang membiarkan televisi menyala meski tak ditonton, atau lupa mencabut colokan alat elektronik,” ujar Toto, beberapa waktu lalu.
Lima Kebiasaan Boros Listrik
Berikut ini lima kebiasaan yang paling sering ditemukan dan menjadi penyebab utama tagihan listrik membengkak, menurut tiga dosen elektro itu:
1. Menyalakan AC Saat Tidak Digunakan
AC adalah alat elektronik yang paling boros energi.
Menurut Syarif Hidayat, bahkan AC berukuran seperempat PK saja memerlukan daya sekitar 300 watt. Masalahnya, banyak orang membiarkan AC menyala meski ruangan kosong.
“Padahal AC menyedot daya besar, sementara ruangannya tidak selalu dipakai,” katanya.
2. Lampu Nyala Sepanjang Waktu
Satu bola lampu LED membutuhkan daya 7–10 watt. Sekilas terlihat kecil, tapi jika menyala terus menerus di banyak ruangan, efeknya bisa terasa.
“Kadang lampu menyala di ruangan yang tidak digunakan, itu juga pemborosan,” tambah Syarif.
3. Televisi Menyala Tanpa Penonton
Kebiasaan menonton TV sampai tertidur juga berkontribusi besar.
Satu unit TV rata-rata memakan daya 90 watt. Jika dibiarkan menyala semalaman, tentu saja membuat konsumsi listrik melonjak.
“Kita sering tidur di depan TV yang masih menyala, ini boros sekali,” kata Syarif.
4. Alat Elektronik Standby
Kebiasaan membiarkan charger, rice cooker, atau alat lain tetap tercolok meski tidak digunakan, ternyata menyedot energi.
Menurut Toto, ini adalah jenis pemborosan yang sering tak disadari. “Colokan tetap terhubung meskipun alatnya sudah mati. Itu tetap menyedot daya, dikenal sebagai standby power,” ungkapnya.
5. Tidak Mencabut Colokan
Deny Hamdani menegaskan bahwa peralatan dalam posisi standby tetap mengonsumsi listrik. Walau hanya 1–5 watt, jika dikalikan dengan banyak alat dan waktu yang panjang, bisa menyumbang hingga 10 persen dari total pemakaian rumah tangga.
“Meski kecil, kalau jumlah alatnya banyak dan terjadi terus-menerus, tetap terasa efeknya,” jelas Deny.
Kenali Jam Kritis: WBP vs LWBP
Masih banyak yang tidak menyadari bahwa waktu penggunaan alat elektronik juga memengaruhi tagihan. PLN menerapkan dua jenis tarif:
- Waktu Beban Puncak (WBP): pukul 17.00–22.00, tarifnya lebih mahal.
- Luar Waktu Beban Puncak (LWBP): pukul 23.00–16.00, tarifnya lebih murah.
Toto menjelaskan, pada jam-jam WBP, tarif listrik bisa 1,2 kali lebih mahal dibanding tarif reguler. Karena itu, sebaiknya hindari penggunaan alat berat seperti mesin cuci, microwave, atau setrika listrik di rentang waktu tersebut.
“Beban puncak ini yang sering membuat tagihan membengkak, padahal aktivitas rumah tangga tidak berubah,” ujar Toto. Ia mengingatkan bahwa sistem tarif WBP dan LWBP juga berlaku bagi pengguna token prabayar.
Solusi Hemat Listrik
Untuk menjaga tagihan tetap stabil, para dosen ini memberi beberapa saran praktis:
- Gunakan peralatan listrik hemat energi.
- Matikan alat elektronik saat tidak digunakan.
- Cabut kabel dari colokan.
- Hindari penggunaan peralatan berat di jam WBP.
Langkah kecil, jika dilakukan konsisten, bisa menghemat banyak. Dan yang terpenting, lebih ramah lingkungan.***





