“Ikan air tawar merupakan lebih dari separuh spesies ikan yang dikenal di dunia, suatu keanekaragaman yang tidak dapat dipahami mengingat ekosistem air tawar hanya mencakup 1% dari habitat perairan,”kata Kathy Hughes, salah satu ketua kelompok spesialis ikan air tawar IUCN.
“Spesies yang beragam ini merupakan bagian integral dari ekosistem dan penting bagi ketahanannya. Hal ini penting bagi miliaran orang yang bergantung pada ekosistem air tawar dan jutaan orang yang bergantung pada perikanan,”tambahnya.
Penilaian ikan air tawar dikembangkan dengan masukan dari lebih dari 1.000 ilmuwan dari seluruh dunia dan kombinasi lebih dari 100 lokakarya baik secara tatap muka maupun online.
“IUCN saat ini sedang menilai spesies air tawar di China. Apa yang kami temukan adalah adanya dampak besar akibat semua bendungan di sungai terhadap ikan air tawar, dan beberapa spesies dalam pembaruan ini mengalami penurunan status karena dampak tersebut terhadap aliran air akibat bendungan, seperti Tiga Ngarai,” kata Hilton-Taylor.
Dia memilih Baiji, seekor lumba-lumba sungai di China yang terdaftar sebagai lumba-lumba terancam punah sejak tahun 1996, karena apa yang terjadi pada sistem sungai tersebut.
“Status Baiji, dikenal sebagai Dewi Pemandangan di Sungai Yangtze, tidak berubah, meskipun mungkin ‘sudah punah’, karena tidak ada orang yang pernah melihatnya lagi dalam waktu yang sangat lama,” kata Hilton-Taylor.
“Kami belum secara resmi menyatakan punah. Kami menambahkan berbagai upaya survei, termasuk survei visual dan akustik. Sejauh ini kami tak menemukan satu ekor pun dalam dua dekade terakhir. Tidak ada tanda apa pun. Sangat menyedihkan,” simpulnya.*
FOTO: Ikan Pari Jawa yang dinyatakan punah. (Free Asia)



