GAZA — Militer Israel melakukan “serangan yang ditargetkan” terhadap milisi Palestina Hamas di Rafah bagian timur. Operasi militer Israel dimulai setelah Hamas menerima perjanjian gencatan senjata, yang kemudian ditolak oleh Israel karena dianggap “jauh dari memenuhi tuntutan Israel”.
Pasukan pertahanan Israel (IDF) melakukan serangan di Rafah pada Senin (6/5/2024) malam waktu setempat. ‘Serangan yang ditargetkan’ itu menyasar Hamas di Rafah timur, kata IDF, dilansir kantor berita Associated Press (AP).
Tank-tank Israel, menurut laporan AP, terlihat menuju Rafah, pada rute yang sangat dekat dengan perbatasan Gaza dan Mesir. Daerah ini adalah wilayah vital karena menjadi pintu masuk bantuan kemanusiaan. Di sana ditinggali sekitar 1,5 juta penduduk Palestina.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi pada Ahad (5/5/2024) bahwa pemerintahannya siap mencapai gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera dengan Hamas yang dituduhnya membuat tuntutan yang tidak dapat diterima.
“Hamas terus mengajukan tuntutan ekstrem. Tuntutan utama mereka adalah kami menarik seluruh pasukan kami dari Jalur Gaza, mengakhiri perang, dan membiarkan Hamas sendirian. Negara Israel tidak dapat menerima persyaratan ini,” kata Netanyahu, melalui sebuah pesan video.
Selama putaran terakhir perundingan tidak langsung dengan Hamas, sebutnya, pemerintah Israel menunjukkan kesiapannya untuk membuat konsesi yang digambarkan sebagai ‘tindakan murah hati’ oleh Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken.
Meski demikian, Perdana Menteri Israel menekankan bahwa pemerintahnya tidak akan pernah menyerah pada tujuan militernya di Gaza. Dia mengatakan penarikan mundur Israel dari Gaza berarti penyerahan diri Israel dan kemenangan besar bagi Hamas dan Iran.
Ia menegaskan bahwa Israel telah dan masih siap untuk membuat kesepakatan mengenai jeda pertempuran untuk memastikan pembebasan orang-orang Israel yang diculik. Israel melakukan upaya tersebut, lanjutnya, demi membebaskan 124 sandera dan kemudian akan kembali berperang.
“Kami telah menghabiskan beberapa minggu terakhir untuk mengatasi hal tersebut. waktu untuk mencapai kesepakatan yang akan membawa kembali orang-orang yang diculik,” ucapnya.





