Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui tugas negara yang diembannya berat dan rawan bahaya. Sementara itu, warga sekitar rumahnya mengungkap, pelaku penjarahan masih muda—bahkan ada yang bawa drone.
__________
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akhirnya bersuara setelah rumah pribadinya di Bintaro, Tangerang Selatan, dijarah massa pada Ahad dini hari, 31 Agustus 2025. Melalui akun Instagram resminya, @smindrawati, Senin pagi, ia berterima kasih atas doa dan simpati publik.
“Politik adalah perjuangan bersama untuk tujuan mulia kolektif bangsa, tetap dengan etika dan moralitas yang luhur,” tulis Sri Mulyani.
Ia menegaskan, tugas pejabat negara dijalankan berdasarkan sumpah, bukan selera pribadi. Bila publik tidak puas dengan undang-undang, kata dia, jalur konstitusional terbuka melalui Mahkamah Konstitusi (MK).
Sri Mulyani juga mengingatkan bahwa demokrasi harus diperbaiki dengan cara beradab, bukan dengan intimidasi atau anarki.
“Tugas negara harus dilakukan dengan amanah, kejujuran, integritas, kepantasan, profesional, transparan, akuntabel, dan jelas kami dilarang korupsi,” tegasnya.
View this post on Instagram
Penjarah Dua Gelombang
Sementara itu, menurut kesaksian warga dan satpam, peristiwa penjarahan rumah Sri Mulyani berlangsung dalam dua gelombang, pukul 01.00 dan 03.00 WIB. “Gelombang pertama sekitar jam satu, gelombang kedua jam tiga dini hari,” kata Joko Sutrisno, staf pengamanan rumah itu, Ahad—sebagaimana dikutip dari Detikcom.
Sedangkan Renzi, warga sekitar, mengaku melihat ratusan orang masuk ke rumah Sri Mulyani. “Bu Sri tidak ada di rumah. Kami hanya bisa menenangkan agar massa tidak sampai membakar,” ujarnya.
Menurut satpam Ali dan Jayadi, penjarah kebanyakan masih muda. “Paling tua 25 tahun, kebanyakan remaja,” kata Ali.
Olaf, warga setempat, menambahkan gelombang kedua lebih besar jumlahnya. Ia melihat massa membawa televisi, baju, hingga peralatan makan.
“Bukan orang sini. Anak muda. Ada yang teriak-teriak sambil bawa piring dari rumah Bu Sri,” kata Olaf.





