Hari pertama menjabat, Purbaya Yudhi Sadewa langsung menghadapi ujian berat. Menteri Keuangan baru itu bukan hanya harus menenangkan pasar yang gonjang-ganjing, tetapi juga meredam badai kredibilitas akibat dua insiden beruntun: pernyataan publiknya yang kontroversial dan ulah anaknya di media sosial. Apa yang harus dilakukan?
_________
Kedua insiden ini membentuk narasi negatif yang menekan kepercayaan publik sekaligus pasar. Purbaya seakan memulai langkah dari posisi defisit kredibilitas. Tantangan terbesarnya bukan hanya soal fiskal, tetapi juga bagaimana mengembalikan kepercayaan yang terkikis.
Tanggal 8 September 2025, Presiden Prabowo Subianto menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Nama itu langsung menyedot perhatian. Publik mengenal Purbaya sebagai ekonom senior dengan rekam jejak panjang. Ia menyelesaikan Master of Science dan Doktor Ekonomi di Purdue University, Amerika Serikat. Sebelum jadi Menkeu, ia menjabat Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sejak 2020.
Meski CV mentereng, pasar justru gelisah. Sri Mulyani selama ini menjadi jangkar stabilitas fiskal. Saat nama Purbaya diumumkan, IHSG langsung anjlok 1,3 persen. Rupiah sempat menguat 0,7 persen dalam intraday terbesar dua bulan terakhir, tapi analis menilai sentimen negatif mendominasi.
Hasnain Malik dari Tellimer, Dubai, bahkan menilai kepergian Sri Mulyani menandai berakhirnya era kredibilitas fiskal Indonesia.
Pergantian ini terjadi di tengah gejolak global. Investor butuh kepastian arah kebijakan. Sayangnya, Purbaya memulai dari titik minus. Ia harus mengisi defisit kepercayaan yang ditinggalkan pendahulunya.
Pernyataan ‘Nyelekit’, Publik Tersulut
Tak lama setelah dilantik, Purbaya bikin gaduh. Menanggapi “17+8 Tuntutan Rakyat”, ia berkata itu hanya suara sebagian kecil rakyat. “Mungkin sebagian merasa terganggu, hidupnya masih kurang,” ujarnya.
Ucapan itu menyulut amarah. Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI 2025, Diallo Hujan Biru, menilai komentar itu bikin “sakit hati rakyat”.
Dari kalangan ekonom, Achmad Nur Hidayat menyebut Purbaya overconfident. Pernyataan yang meremehkan tuntutan publik, menurutnya, berbahaya.
“Pasar membaca setiap sinyal dari seorang Menkeu. Keyakinan berlebihan tanpa rencana konkret bisa memicu volatilitas nilai tukar, menahan investasi, bahkan pelarian modal,” ujarnya.
Purbaya buru-buru klarifikasi. Ia minta maaf dan menyebut ucapannya dipelintir. Ia mengaku belum terbiasa dengan sorotan publik, berbeda saat di LPS.
Bahkan, ia berjanji akan minta masukan dari Sri Mulyani. Tapi kerusakan terlanjur terjadi. Pasar membaca sinyal negatif, kepercayaan publik pun goyah.
Skandal Anak Ikut Menghantam Kredibilitas
Belum reda polemik itu, datang pukulan kedua. Putra Purbaya, Yudo Sadewa, mengunggah story Instagram yang menyebut Sri Mulyani sebagai “agensi CIA Amerika”. Story itu viral, lalu akunnya menghilang.
Belum selesai, video lama Yudo di TikTok ikut viral. Ia membahas “ciri-ciri orang miskin”, dan menyebut mereka rasis, bermental pengemis, dan munafik dengan dalih “harta tidak dibawa mati”.
Warganet marah besar. Citra keluarga Menkeu hancur seketika.
Klarifikasi yang Tambah Memicu Kritik
Yudo mencoba klarifikasi lewat TikTok. Ia bilang, unggahan soal Sri Mulyani hanya lelucon internal. Dalam video itu, ia malah tertawa-tawa dan mengaku heran kenapa bisa viral.
Publik menilai klarifikasi itu tidak serius. Warganet menganggapnya kelewat batas. Ulah Yudo menyeret nama sang ayah makin dalam pusaran kritik.
Narasi Arogansi Elite, Blunder yang Saling Menguatkan
Secara substansi, pernyataan Purbaya dan unggahan Yudo berbeda. Tapi, karena waktunya berdekatan dan temanya sama—arogan dan tidak peka—keduanya melebur dalam satu narasi tunggal.
Publik melihat ini bukan sekadar salah bicara, tapi cermin moral keluarga pejabat.
Bayang-Bayang Rafael Alun
Publik langsung teringat kasus Rafael Alun Trisambodo. Saat itu, ulah anaknya di medsos memicu penyelidikan kekayaan sang ayah hingga terbongkar korupsi.
Kasus Yudo memang tidak terkait hukum, tapi memori publik otomatis terpicu. Tuntutan agar Menkeu mengendalikan diri dan keluarganya semakin kencang.
Misi Penyelamatan Citra
Dukungan datang dari Luhut Binsar Pandjaitan. Ia meminta publik memberi kesempatan kepada Purbaya. Menurutnya, Purbaya orang baik dengan pengalaman bagus. Tapi pasar dan publik butuh bukti, bukan sekadar pembelaan.
Purbaya harus kerja ekstra. Ia mesti membangun kredibilitas fiskal dengan APBN yang disiplin, transparan, dan berjangka panjang. Ia harus membuka ruang dialog dengan publik, bukan meremehkan kritik.
Program konkret harus segera jalan: reformasi birokrasi, pemangkasan hambatan investasi, sinergi dengan kebijakan moneter. Dan yang tak kalah penting, komunikasi publiknya harus hati-hati. Setiap kata dari Menkeu adalah sinyal pasar.
Kesimpulan: Defisit Kepercayaan yang Berat
Awal jabatan Purbaya ditandai defisit kepercayaan. Blunder komunikasi pribadinya ditambah ulah anaknya menegaskan narasi arogansi elite. Pasar dan publik makin skeptis.
Masa depan Purbaya di Kemenkeu kini bergantung pada satu hal: konsistensi. Ia harus menata fiskal dengan disiplin, membangun kembali citra lewat transparansi, dan menjauhkan keluarganya dari sorotan negatif. Kalau gagal, badai kredibilitas bisa berubah jadi tsunami yang mengguncang institusi Kemenkeu.
Demikian hasil penelitian mendalam yang dilakukan Gemini AI terkait sentimen negatif Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. Penelitan dilakukan dengan mengakses 34 link berita arus utama. Semoga bermanfaat.***





