Rumah Baru, Tenang Baru bagi Komariah

DPD OPSHID Tasikmalaya menyerahkan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubiina kepada penerima, Ahad (21/12/2025). - DPD OPSHID Tasikmalaya

Ia menambahkan, Santunan Nasional Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubina Tasikmalaya hingga kini telah membangun lima unit rumah, dengan rata-rata anggaran sekitar Rp100 juta per unit. Angka itu mencerminkan kerja kolektif, bukan proyek instan.

Sumpah Pemuda dalam Wujud Nyata

Bagi Riswanto, Rumah Syukur TSP 97 bukan sekadar program sosial, melainkan penegasan nilai. Sumpah Pemuda, katanya, adalah embrio kemerdekaan yang menekankan persatuan—nilai yang harus terus dirawat agar tidak terkikis oleh sekat suku, agama, atau kepentingan sempit.

“Rumah Syukur dipilih sebagaimana amanat UUD 1945: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Itulah yang mendasari kami setiap tahun ingin membangun Rumah Syukur,” tuturnya.

Bacaan Lainnya

Dalam kesempatan itu, Riswanto juga menyampaikan apresiasi atas bantuan tambahan dari Danramil Sukaratu berupa sebuah springbed untuk Ibu Komariah—detail kecil yang melengkapi makna besar sebuah hunian layak.

Apresiasi serupa datang dari Camat Sukaratu, Wawan S. Sos. Ia menilai program santunan nasional ini turut membantu upaya pemerintah daerah dalam mengatasi rumah tidak layak huni (Rutilahu), yang belum sepenuhnya tertangani melalui program resmi.

“Atas nama Pemerintah Tasikmalaya, kami mengucapkan terima kasih kepada OPSHID FKYME. Kegiatan ini membantu program pemerintah, karena memang Rutilahu belum bisa dituntaskan sepenuhnya,” ujarnya.

Tenang Tanpa Bocor

Bagi Ibu Komariah, rumah baru itu berarti lebih dari sekadar bangunan. Sejak berdiri pada 1983, rumah lamanya kerap bocor dan rapuh, diperbaiki seadanya dari waktu ke waktu. Kini, ia bisa menutup pintu dengan rasa aman.

“Dulu berdirinya sudah sangat rapuh. Ditutup di satu tempat, bocor di tempat lain,” katanya lirih. “Sekarang bebas bocor, membuat tenang.”

Dengan suara bergetar, ia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membangun ulang rumahnya. “Semoga semuanya diberi keberkahan dan kelancaran,” ucapnya.

Di Waru Jajar, Tasikmalaya, Sumpah Pemuda menemukan bentuknya yang paling konkret: sebuah rumah yang berdiri kokoh, menjadi simbol bahwa persatuan tak selalu lahir dari panggung besar, tetapi dari pondasi yang diletakkan bersama.***

Pos terkait