
Para peneliti mengingatkan bahwa keberhasilan program ini memerlukan perencanaan berbasis data dan keterlibatan petani kecil agar tidak menimbulkan ketimpangan baru dalam rantai pasok.
Program Makan Gratis dan Tantangan Pengawasan Pangan
Dari sektor lain, pemerintah menambahkan Rp 20 triliun untuk memperkuat pasokan ayam dan telur bagi program makan bergizi gratis. Program yang ditujukan kepada 70–80 juta penerima ini menjadi salah satu prioritas nasional.
Namun, fakta yang terkuak di berbagai media menunjukkan adanya ribuan kasus keracunan yang dikaitkan dengan distribusi makanan program tersebut.
The Guardian mencatat lebih dari 15.000 kasus hingga September 2025, tapi pemerintah hanya mengonfirmasi sekitar 6.500. Laporan Le Monde juga menyoroti tantangan pengawasan dapur terpusat dan perlunya standar keamanan pangan yang seragam di seluruh daerah.

Pemerintah menegaskan program tetap berjalan sembari meningkatkan kualitas pengawasan. Dalam konteks ini, penguatan rantai pasok yang didukung investasi besar menjadi sangat penting, bukan hanya demi kontinuitas program, tetapi juga keselamatan jutaan anak dan keluarga penerima.
Food Estate dan Pertanyaan tentang Keberlanjutan
Ambisi besar sektor pangan ini bersinggungan dengan catatan panjang tentang proyek food estate. Analisis Fulcrum (28 April 2025) menyoroti bahwa berbagai proyek pangan skala besar dalam tiga dekade terakhir meninggalkan jejak kerusakan lahan dan konflik agraria, terutama karena kurangnya konsultasi publik dan keterlibatan masyarakat adat.
Laporan Associated Press pada April 2025 menggambarkan pembukaan hutan dalam skala yang mendekati ukuran Belgia untuk produksi tebu, beras, dan bioetanol di Papua dan Kalimantan.





