Longsor di Cilacap pada 13 November 2025 mengungkap rapuhnya tata ruang dan kesiapan Indonesia menghadapi musim hujan—yang kini datang dengan pola yang makin ekstrem.
Hujan deras belum berhenti ketika tanah di lereng Desa Cibeunying mulai retak. Tak ada peringatan resmi, hanya suara gemuruh singkat sebelum longsor besar meluncur pada Kamis malam, 13 November 2025, menimbun rumah-rumah di Dusun Tarukahan dan Cibuyut. Dalam hitungan menit, dua dusun itu berubah menjadi lanskap lumpur.
Hingga Sabtu malam (15/11), tim SAR gabungan telah menemukan 11 korban tewas, sementara 12 lainnya masih hilang di bawah tumpukan tanah setinggi 2 hingga 8 meter. Lebih dari 500 personel dikerahkan, dibantu alat berat dan unit K9, menembus hujan dan lereng yang terus bergeser.
“Kami masih fokus untuk pencarian korban yang hilang,” kata Bergas Catursasi Penanggungan, Kepala BPBD Jawa Tengah, Jumat pagi. “Kami upayakan terus sampai semua ditemukan.”
Di Majenang, para petugas bekerja dalam keheningan. Setiap kali sekop menggali tanah, harapan dan kecemasan muncul bersamaan. Pencarian diperlambat akses yang terputus dan curah hujan yang masih tinggi.
Hujan Ekstrem yang Sudah Diperingatkan
BMKG tidak terkejut. Dua hari sebelum longsor, pos hujan Majenang mencatat curah hujan 98,4 mm dan 68 mm per hari. Tanah sudah jenuh air.
“Rangkaian hujan membuat lereng semakin rentan,” ujar Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, dalam siaran pers 15 November. “Atmosfer pada periode itu juga sangat lembap.”
BMKG telah berulang kali memperingatkan bahwa akhir 2025 menandai awal musim hujan dengan pola baru: lebih awal, lebih panjang, dan lebih tidak stabil. Sekitar 43,8 persen wilayah Indonesia memasuki musim hujan pada akhir Oktober. Dan pola curah hujan ekstrem — hujan di atas 150 mm/hari — kini semakin sering dan merata di seluruh Indonesia.
Dalam laporan Hari Meteorologi Dunia, Maret 2025, kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut bahwa tren hujan ekstrem dalam tiga dekade terakhir meningkat seiring naiknya suhu rata-rata nasional, yang kini tercatat sebagai salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah pengamatan.





