Produktivitas perkebunan kelapa di Indonesia dinilai belum sebanding dengan luas areal tanam yang merupakan salah satu terbesar di dunia. Salah satu penyebabnya adalah risiko keselamatan kerja saat memanen kelapa serta minimnya regenerasi pemanjat pohon akibat upah yang relatif rendah.
Menjawab tantangan tersebut, dosen Departemen Teknologi Kedokteran Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ir Achmad Syaifudin ST MEng PhD IPM AEng, mengembangkan alat panjat pohon kelapa bernama Moto Climber ITS (Mocits).
Inovasi alat mesin pertanian (alsintan) ini dikembangkan atas permintaan Kementerian Pertanian (Kementan) RI sebagai upaya mendukung modernisasi sektor perkebunan kelapa.
“Perancangan alat ini memang didasari kebutuhan pertanian di Indonesia untuk meningkatkan produktivitas panen kelapa,” ujar Syaifudin, Senin (29/6/2026).
Tiga Tahap Pengembangan
Syaifudin menjelaskan, pengembangan Mocits dilakukan melalui tiga tahap prototipe.
Prototipe pertama masih memiliki sejumlah keterbatasan, mulai dari desain, material, hingga ukuran roda yang dinilai terlalu besar sehingga performanya belum optimal.
Selanjutnya lahir prototipe Beta yang telah mampu memanjat pohon kelapa meski masih memiliki bobot cukup berat dan kecepatan kerja yang belum maksimal. Versi inilah yang pertama kali dipamerkan kepada Menteri Pertanian.
Masukan dari para petani kemudian menjadi dasar penyempurnaan hingga lahir prototipe Alpha, yang telah diuji coba langsung di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
“Versi terakhir ini jauh lebih optimal karena dikembangkan berdasarkan hasil wawancara dan pengalaman penggunaan langsung oleh petani,” kata Syaifudin.
Lebih Aman dan Mudah Dioperasikan
Pada versi terbaru, Mocits dilengkapi sejumlah fitur keselamatan yang dirancang untuk memudahkan operator saat memanjat maupun turun dari pohon.
Salah satunya adalah sistem pengereman ganda (double brake) yang secara otomatis mengunci alat pada batang kelapa.
“Untuk naik cukup menekan rem sambil menarik gas. Sedangkan untuk turun tinggal melepas gas dan rem secara perlahan,” jelasnya.
Selain itu, alat juga dilengkapi sabuk pengaman (harness) serta sistem lashing yang menjaga operator dan mesin tetap tertahan pada batang pohon apabila rem tangan tidak dioperasikan.
Mocits juga dapat digunakan pada pohon kelapa dengan diameter batang 25–40 sentimeter karena memiliki sistem penyesuaian (adjustable). Ke depan, tim ITS berencana menambahkan mekanisme rack and pinion agar cengkeraman alat semakin presisi mengikuti ukuran batang pohon.
Dirancang Ergonomis dan Mudah Dirawat
Menurut Syaifudin, seluruh komponen alat dirancang sesederhana mungkin agar mudah dipelajari dan dirawat oleh petani.
Karena itu, tim memilih menggunakan sistem rantai yang telah akrab digunakan masyarakat pedesaan sehingga proses perawatan tidak memerlukan teknologi yang rumit.
“Penggunaan rantai dipilih karena mekanismenya sudah familier bagi masyarakat desa dan lebih mudah dirawat,” ujarnya.
Kementan Apresiasi, Petani Nilai Lebih Efektif
Perwakilan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Jawa Timur, Dr Ismatul Hidayah SP MP, mengapresiasi pendekatan desain yang sederhana namun tetap mengutamakan efisiensi dan keselamatan.
Menurutnya, teknologi pertanian harus mampu memberikan kemudahan dibandingkan metode panjat kelapa secara manual.
“Kalau dibandingkan cara manual, alat ini harus lebih efisien, lebih aman, dan mudah diaplikasikan oleh petani,” katanya.
Hal senada disampaikan petani asal Lumajang, Muhammad Basiran, yang ikut dalam uji coba lapangan.
Ia menilai Mocits lebih efektif dibandingkan metode konvensional dan relatif mudah dipelajari.
“Menurut saya cara penggunaannya mudah dipahami dan bisa langsung diterapkan oleh petani,” ujarnya.
Siap Diproduksi dan Masuk E-Katalog
Untuk tahap produksi massal, ITS menggandeng PT Smarttech Reborn 2007, perusahaan manufaktur milik alumnus Teknik Mesin ITS.
Produk tersebut selanjutnya akan dipasarkan melalui ITS Science Techno Park dan dipersiapkan masuk ke dalam e-Katalog Kementerian Pertanian, sehingga dapat diakses lebih luas oleh pemerintah daerah maupun kelompok tani di berbagai daerah.***





