Seperlima Disabilitas Indonesia Berasal dari Gangguan Penglihatan

Katarak
Wakil Menteri Kesehatan RI (Wamenkes) Prof. Dante Saksono Harbuwono. (Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kementerian Kesehatan RI)

Wamenkes Dante Saksono menyebut gangguan penglihatan berdampak besar pada kualitas hidup. Kemenkes menargetkan operasi katarak masif dan pemerataan dokter spesialis mata.

Seperlima kasus penyakit penyebab disabilitas di Indonesia bersumber dari gangguan penglihatan. Hal ini menjadi perhatian serius pada peringatan Hari Penglihatan Sedunia yang jatuh setiap Oktober.

Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono menegaskan penanggulangan gangguan penglihatan adalah investasi krusial. Tujuannya meningkatkan Angka Harapan Hidup Sehat, indikator lamanya seseorang hidup tanpa disabilitas.

“Gangguan penglihatan, termasuk katarak, tidak memicu kematian langsung, tetapi sangat menentukan kualitas hidup,” ujar Dante, dikutip Minggu (25/10/2026).

Bacaan Lainnya

Target Operasi Katarak dan Pemerataan Dokter

Kemenkes mendorong percepatan Peta Jalan Kesehatan Penglihatan Nasional lewat sejumlah sasaran strategis. Pemerintah menargetkan minimal satu juta individu berisiko melakukan deteksi dini di fasilitas primer.

Selain itu, cakupan operasi katarak ditargetkan menjangkau 80 persen penderita sedang hingga berat. Minimal 80 persen pasien pascaperasi harus memperoleh pemulihan tajam penglihatan yang baik.

Kemenkes juga mematok Cataract Surgical Rate minimal 3.000 tindakan per satu juta penduduk per tahun. Target ini berlaku secara nasional bagi peserta BPJS Kesehatan.

Layanan di tingkat dasar diperkuat melalui pemeriksaan funduskopi atau oftalmoskopi. Metode ini mendeteksi dini penyakit mata berat seperti retinopati diabetik.

“Kalau semua dokter umum melakukan pemeriksaan funduskopi, kelainan mata akan makin banyak terlihat,” tegas Dante.

Tren Kebutaan Kian Kompleks

Ketua Pengurus Pusat Perdami Prof. Budu melaporkan kasus kebutaan di Indonesia makin kompleks. Selain katarak, muncul gangguan refraksi, retinopati diabetik, degenerasi makula, dan glaukoma.

Perubahan pola hidup dan transisi Indonesia turut memicu pergeseran tren penyakit mata. “Indonesia sudah mulai merangkak masuk ke level kedua kebutaan di dunia,” tandas Budu.

Perdami menyambut baik sinergi dengan Kemenkes. Mereka mengajak seluruh cabang mempercepat pemberantasan kebutaan katarak.

“Kami mengapresiasi Kemenkes yang menempatkan Perdami sebagai mitra strategis,” tukasnya.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan