Rantis Brimob Lindas Ojol: Pajak Rakyat Jadi Senjata Makan Tuan

Ilustrasi kendaraan taktis Rimueng. |AI Generated Image
Kendaraan taktis alias rantis seharga ratusan miliar dari pajak rakyat justru mencabut nyawa pengemudi ojol di Pejompongan—yang notabene juga rakyat pembayar pajak. Netizen pun marah.

__________

Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan, pengemudi ojek online berusia 21 tahun, usai dilindas rantis Brimob saat kericuhan di depan Gedung DPR/MPR, Kamis, 28 Agustus 2025 malam, memicu gelombang kemarahan publik.

Kendaraan negara bernilai fantastis, yang semestinya untuk pengamanan, justru jadi mesin maut. Warganet menyebut pejabat negara tak amanah.

Bacaan Lainnya

“Rantis yang dibeli dengan pajak kita, hampir Rp1 triliun, malah dipakai menginjak rakyat sendiri,” tulis sebuah unggahan di media sosial.

Data Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) memperkuat amarah itu. Tercatat Polri memiliki tujuh unit rantis dengan harga Rp149,9 miliar hingga Rp203,9 miliar per unit. Totalnya nyaris menembus Rp1 triliun.

Dari video yang beredar, rantis yang melindas Affan diduga Rimueng—kendaraan baja berbobot 14 ton, berlapis armor plate, kaca NIJ level 3, hingga ban run flat tire. Dirancang untuk perang, tapi melintas di jalan kota.

“Dengan bobot belasan ton, kalau manusia terlindas, mustahil selamat,” tulis salah satu komentar.

Kelalaian atau Kecerobohan?

Influencer otomotif Fitra Eri turut bersuara. Ia mempertanyakan alasan pengemudi rantis melaju kencang di tengah kerumunan massa.

“Kendaraan itu berbobot luar biasa dan butuh jarak panjang untuk berhenti. Kenapa harus ngebut di kerumunan? Setelah menabrak, sempat berhenti, tapi malah melindas korban. Polisi harus usut tuntas!” tegasnya di Instagram.

Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel, menilai insiden ini tidak bisa dianggap sepele. Ia membedakan dua momen: saat tabrakan, pengemudi bisa dianggap lalai (negligence). Namun ketika kendaraan kembali bergerak dan melindas, itu masuk kategori kecerobohan (recklessness).

“Ini musibah yang menyedihkan. Andai petinggi negara lebih amanah, hal seperti ini tak akan terjadi. Investigasi harus tuntas, objektif, transparan,” ujarnya, Jumat (29/8).

Bagi banyak orang, tragedi Pejompongan bukan sekadar kecelakaan. Ia jadi cermin bagaimana alat perang dipakai serampangan di jalan kota—hingga nyawa rakyat kecil pun melayang sia-sia.***

Pos terkait