Penurunan penjualan rokok PT Gudang Garam dan melimpahnya stok membuat pabrik rokok yang berpusat di Kediri, Jawa Timur itu, menghentikan sementara pembelian tembakau dari Temanggung. Petani waswas, pemerintah daerah mencari siasat.
__________
Langit cerah Temanggung tak cukup menghapus kabut kegelisahan di ladang-ladang tembakau. Pasalnya, sejak awal Juni, kabar kurang sedap datang dari Kediri, markas besar PT Gudang Garam. Salah satu perusahaan rokok besar itu menghentikan sementara pembelian bahan baku tembakau dari Temanggung—salah satu lumbung tembakau terbaik di Indonesia.
“Situasinya memang sedang tidak kondusif untuk pembelian,” kata Bupati Temanggung, Agus Setyawan, saat ditemui wartawan di Temanggung, Ahad, 15 Juni lalu. Agus ketika itu baru saja kembali dari kunjungan ke fasilitas Gudang Garam di Kediri, bareng perwakilan DPRD dan Komite Pertembakauan Kabupaten Temanggung.
Kata Agus, ada dua sebab utama kenapa Gudang Garam menyetop belanja tembakau. Pertama, adanya tren penurunan signifikan dalam penjualan rokok secara nasional. Kedua, harga saham PT Gudang Garam terus tergerus di pasar.
Kombinasi keduanya membuat perusahaan mengambil langkah efisiensi, termasuk menyetop pasokan dari wilayah tertentu.
“Gudang Garam menyampaikan bahwa stok tembakau mereka sudah melimpah. Jika diproses dengan kapasitas produksi sekarang, persediaan itu cukup untuk empat tahun ke depan,” ujar Agus, menirukan penjelasan manajemen perusahaan.
Tak hanya urusan stok. Agus juga menyinggung soal kawasan industri hasil tembakau di daerahnya yang terkendala regulasi cukai. Ia mengaku sudah mencoba membuka jalur komunikasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk membahas potensi perintisan kawasan tersebut.
“Kemarin asisten II sudah mengajukan konsep rintisan untuk 2026. Tapi realisasinya masih akan kami hitung lagi, terutama dari sisi efisiensi,” kata Agus.
Sementara petani menggantungkan harapan pada cuaca dan keberuntungan, pemerintah daerah mencoba menyusun strategi jangka panjang agar industri tembakau Temanggung tak sepenuhnya bergantung pada satu korporasi. Tapi jalan menuju kemandirian itu masih panjang dan berliku.***




