Bagi Islah Bahrawi, keberanian itu ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, mengangkat martabat Indonesia sebagai bangsa yang teguh pada konstitusi. Di sisi lain, membuka celah potensi infiltrasi—operasi senyap yang bisa datang dari jaringan intelijen atau kepentingan terselubung para sekutu Israel.
“Harus siap menghadapi konsekuensi,” tulis Islah. Sebuah peringatan bahwa di balik tepuk tangan untuk pidato Prabowo, ada bayang-bayang risiko yang harus dijaga bersama.***





