Peneliti Flinders University temukan populasi optimal Bumi hanya 2,5 miliar jiwa—jauh di bawah 8,3 miliar penduduk yang ada kini.
Populasi manusia telah melampaui kemampuan Bumi untuk menopang kehidupan secara berkelanjutan. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Letters edisi Maret 2026 menyimpulkan hal tersebut setelah menganalisis data kependudukan lebih dari dua abad.
Tim peneliti yang dipimpin Profesor Ekologi Global Corey Bradshaw dari Flinders University, Australia, menggunakan model pertumbuhan ekologi untuk melacak perubahan jumlah dan laju pertumbuhan populasi secara global dan regional.
“Bumi tidak mampu mengikuti cara kita menggunakan sumber daya. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan saat ini pun tidak cukup tanpa perubahan besar,” kata Bradshaw dalam pernyataan resmi Flinders University, 30 Maret 2026.
Bahan Bakar Fosil dan Ledakan Populasi
Istilah daya dukung lingkungan berakar dari industri pelayaran akhir abad ke-19, saat kapal berbahan bakar batu bara menggantikan kapal layar. Peralihan menuju bahan bakar fosil inilah yang kemudian memicu ledakan populasi global sepanjang abad ke-20.
Studi ini membedakan dua batas populasi: batas maksimum—angka absolut yang dapat ditampung planet meski memicu kelaparan dan konflik—dan batas optimal, yakni jumlah yang memungkinkan kehidupan berkelanjutan dengan standar hidup layak.
Fase Demografis Negatif
Sejak 1962, populasi global memasuki apa yang peneliti sebut “fase demografis negatif”—kondisi di mana jumlah penduduk terus bertambah, tetapi laju pertumbuhannya secara konsisten melambat. Hasil analisis menempatkan populasi optimal manusia pada sekitar 2,5 miliar jiwa.
Jika tren ini berlanjut, populasi dunia diproyeksikan mencapai 11,7 hingga 12,4 miliar jiwa pada akhir 2060-an hingga 2070-an.
Bradshaw menegaskan bahwa studi ini bukan prediksi keruntuhan mendadak, melainkan penilaian realistis atas tekanan jangka panjang yang sedang berlangsung. Para peneliti menyimpulkan bahwa penurunan populasi yang selaras dengan pola konsumsi lebih bijak masih menjadi jalur paling layak menuju keseimbangan dengan biosfer. ***





