Reuters pada Mei melaporkan pelaksanaan target tersebut masih menghadapi persoalan skema impor, ketersediaan kapal, sanksi, serta biaya logistik. Saat itu baru satu kargo minyak Rusia yang dilaporkan tiba.
Tekanan terhadap pasokan juga datang dari konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina. Reuters mencatat Indonesia tetap menjadi pembeli bensin terbesar di Asia, dengan impor Agustus diperkirakan sekitar 11–12 juta barel.
Gangguan Selat Hormuz turut mendorong kilang Asia mencari minyak mentah dari luar Timur Tengah. Impor minyak mentah Amerika Serikat ke Asia mencapai rekor 2,35 juta barel per hari pada Juli 2026.
Pasar produk olahan juga masih ketat. Ekspor diesel global pada Juli turun sekitar 1,3 juta barel per hari dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara aktivitas kilang Rusia tertekan akibat serangan Ukraina.
China mulai menambah pasokan ke pasar. Ekspor produk minyak olahannya pada Juli mencapai 4,65 juta ton, naik 6,7 persen dibandingkan Juni. Ekspor diesel naik 88 persen menjadi sekitar 810 ribu ton, sedangkan bensin melonjak menjadi sekitar 420 ribu ton.
Pertamina dan Kejaksaan belum mengumumkan nilai total pengadaan yang masuk dalam pendampingan PPS, volume masing-masing komoditas, negara pemasok, maupun apakah skema tersebut mencakup seluruh tender impor Pertamina Patra Niaga sepanjang 2026–2027.
Pertamina menyatakan siap menerima masukan dan evaluasi dalam proses tender untuk memperbaiki tata kelola pengadaan secara berkelanjutan.***





