Binhad pun mengkritik apa yang ditulis pada halaman 11 buku yang diluncurkan Pemkot Surabaya, yang menulis Soekeni pindah ke Distrik Ploso di Afdeeling Jombang. Padahal, kata Binhad, dokumen besluit mutasi dinas Soekeni tertanggal 28 Desember 1901 menyebutkan ia ditunjuk sebagai guru di “School der 2de Klasse te Ploso (Soerabaja)”.
Kritik juga menyentuh penulisan tempat lahir Soekarno di Buku Induk THS, yang mencatat Surabaya. Buku tersebut menyebut tempat lahir mengacu pada kabupaten atau kota, bukan keresidenan. Namun, catatan beberapa teman kuliah Soekarno justru menggunakan nama keresidenan.
Terkait tahun kelahiran, Binhad menyoroti sikap buku yang mengikuti pengakuan Soekarno bahwa usianya dimudakan sehingga lahir 1901. Hal ini dinilai bertentangan dengan catatan ayahnya dan Buku Induk THS yang mencatat 1902.
Penggunaan letusan Gunung Kelud sebagai acuan tahun 1901 juga dipertanyakan. Jarak Ploso disebut lebih dekat ke Kelud dibanding Surabaya, dan letusan juga terjadi pada 1902.
Di sisi lain, salah satu penulis buku, Prof. Purnawan Basundoro, mendukung rencana Pemkot. Ia menilai buku ini relevan sebagai bacaan wajib agar pelajar Surabaya tahu Soekarno lahir di kota ini. ***
**Meta Description:** Pemkot Surabaya masifkan buku “Bung Karno: Aku Arek Suroboyo” sebagai materi wajib SD-SMP. Eri Cahyadi ingin wariskan semangat perjuangan, tapi pegiat sejarah Binhad Nurrohmat kritik akurasi fakta Ploso dan tahun kelahiran Soekarno.





