“Kelahiran Bung Karno di Ploso Ditopang Data Primer” — Kata Prof. Yon Machmudi dari UI 

ILUSTRASI ini dibikin dengan AI. | Samudrafakta
Ketika Kementerian Kebudayaan tengah menuai kritik karena menyiapkan Sejarah Nasional versi baru tanpa melibatkan pelaku dan saksi sejarah, sebuah diskusi akademik justru memberi napas segar dari daerah. 

__________

Bertempat di Jombang, Forum Diskusi Terfokus bertema “Ploso Bumi Lahir dan Masa Kecil Bung Karno” digelar sebagai upaya menggali kebenaran sejarah yang selama ini terpinggirkan, pada Sabtu, 12 Juli 2025.

Dalam forum itu, pernyataan tajam datang dari Prof. Yon Machmudi, sejarawan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI). Ia menegaskan, “Berdasarkan data sumber primer, dapat dipastikan bahwa masa kecil Sukarno ada di Desa Ploso, Jombang.”

Bacaan Lainnya

Tak hanya itu, Yon juga menyebut bahwa penelusuran kelahiran seseorang bukan perkara mudah. Ia menekankan pentingnya metode ilmiah yang ketat dalam penelitian sejarah: mulai dari pengumpulan data, kritik sumber, hingga tahap interpretasi dan historiografi. 

Tapi, dengan berbekal surat penugasan resmi ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodihardjo, yang bertugas di Ploso sejak 28 Desember 1902, Prof. Yon menilai indikasi kelahiran Bung Karno di Ploso sangat kuat.

“Dari dokumen itu, kita bisa melakukan interpretasi ilmiah bahwa Sukarno dilahirkan di Ploso. Ini bukan sekadar narasi lokal, tapi didukung data administratif dan historis yang sahih,” tegasnya.

Prof. Yon Machmudi (duduk di depan, dua dari kanan) dalam Forum Diskusi Terfokus bertema “Ploso Bumi Lahir dan Masa Kecil Bung Karno”. | FOTO: Istimewa

Forum yang diinisiasi oleh IKA SMADA Jombang bersama Pemkab Jombang ini juga menghadirkan sejumlah tokoh akademisi lain, seperti Prof. Ganjar Razuni dari UNAS, serta perwakilan TACB (Tim Ahli Cagar Budaya) Jombang. 

Para narasumber menyepakati bahwa situs-situs di Ploso, seperti rumah dan lingkungan tempat tinggal keluarga Bung Karno, memerlukan perlindungan hukum dan pengakuan sebagai bagian dari warisan sejarah nasional.

Namun, sorotan paling tajam tetap datang dari Prof. Yon. Ia menyiratkan bahwa, bila data primer yang ada tidak digunakan dalam penulisan ulang sejarah nasional, maka kita sedang membiarkan sejarah terputus dari akar faktualnya. 

Pos terkait