Di tengah kekhawatiran global akibat memanasnya konflik antara Iran dan Israel, pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk tetap fokus melindungi dan memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam negeri.
__________
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menekankan bahwa situasi global tidak akan menggeser prioritas utama kementeriannya: pemberdayaan, perlindungan, dan optimalisasi penggunaan produk-produk UMKM lokal. “Apapun situasinya, UMKM harus jadi pilar tangguh ekonomi nasional,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (24/6).
Meski pembentukan Satuan Tugas Perlindungan UMKM masih dalam tahap pembahasan lintas kementerian, Maman menyebut bahwa upaya nyata terus dilakukan. Salah satunya melalui Festival Perlindungan dan Pemberdayaan UMKM, yang telah digelar di tiga provinsi dari total target 18 wilayah se-Indonesia.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyoroti dampak lanjutan dari ketegangan geopolitik terhadap perekonomian nasional, khususnya di sektor ekspor dan energi. Konflik Iran-Israel yang dipicu serangan Israel pada 13 Juni lalu, dikhawatirkan akan mengganggu jalur pelayaran internasional dan menekan permintaan global.
Skenario terburuk adalah jika Iran menutup Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dunia. Lonjakan harga minyak yang mungkin terjadi akan membebani Anggaran Negara, khususnya pada sisi subsidi energi dan biaya impor migas.
Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, pemerintah telah menyiapkan langkah konkret. “Kami sudah membuka pasar ekspor non-tradisional lewat perjanjian dagang strategis,” kata Budi di Yogyakarta, Jumat (20/6). Beberapa kesepakatan yang telah diteken antara lain IUAE-CEPA, perjanjian dagang dengan Tunisia, dan kesepakatan dengan Uni Ekonomi Eurasia (I-EAEU FTA).
Dengan strategi ganda—memperkuat fondasi UMKM dan memperluas akses ekspor—pemerintah berharap bisa menjaga ketahanan ekonomi nasional meski tekanan global terus meningkat.***





