“Omon-omon” Sama Pentingnya dengan Kerja, Kerja, Kerja

Bung Karno dikenal sebagai sosok yang tanpa tedeng aling-aling mengecam keras cara-cara text-book thinking. Mengambil begitu saja pemikiran-pemikiran para ahli ekonomi Barat, tanpa memperhatikan kondisi di Indonesia. Lebih lanjut, Fadli juga melihat potensi bahwa istilah baru ini bakal menjadi kosa kata baru di masyarakat.

Lantas apa yang salah dengan omon-omon Prabowo Subianto. Barangkali itu menjadi nasihat bagi dirinya dan dua capres lainnya bahwa menjadi pemimpin, menjadi Presiden RI harus kerja cepat, kerja keras, dan kerja cerdas. Bukan sekadar omdo, beretorika, dan menata kata!.

Tapi bukankah kemampuan berbicara itu juga urgen untuk membangun motivasi semangat dan menggugah kesadaran. Bung Karno pernah menulis di Pikiran Rakyat (1933), untuk menjawab kritikan sekelompok yang menamakan diri “Kaum Nasionalis Konstruktif”,  karena Sukarno sering tampil berbicara.

Bacaan Lainnya

Sukarno dianggap terlalu banyak retorika dan gembar-gembor di atas podium dan surat kabar. Sukarno menulis artikel ‘Sekali lagi: Bukan ‘Djangan Banjak Bitjara, Bekerdjalah! Tetapi Banjak Bitjara dan Banjak Bekerdja‘.

Dalam tulisannya itu, dia mengaskan, bahwa kemampuan berbicara itu sangatlah urgen untuk membangun semangat, menggugah kesadaran dan keinsafan politik, guna mengisi gedung kejiwaan yang kosong demi terbebasnya rakyat dari belenggu imperealisme.

“Artileri kejiwaan yang menurut sejarah dunia akhirnya adalah artileri yang satu-satunya yang bisa menggugurkan suatu stelsel”.

___FOTO:IST

Pos terkait