Negeri yang Hafal Wajah Warganya, Tapi Belum Hafal Harga Hidupnya

ILUSTRASI — Wajah warga kini harus cocok dengan NIK untuk membeli kartu perdana. Namun ketika harga bensin, ongkos perjalanan, dan kebutuhan dapur terus merangkak, kemampuan bayar belum tentu ikut terbaca oleh sistem.

Angka itu mungkin tampak sopan dalam tabel. Tetapi di luar tabel, ia datang sebagai bensin yang lebih mahal, ongkos pesawat yang lebih tinggi, bawang yang tidak mau ikut program stabilisasi, dan beras yang tetap mengajarkan kelas ekonomi praktis kepada siapa pun yang setiap hari membuka dompet.

Bank Indonesia menyebut inflasi masih “terjaga dalam kisaran sasaran”. Kalimat itu benar secara statistik.

Tetapi kalimat tersebut juga punya cara kerja yang khas: menenangkan laporan sebelum sempat menenangkan perjalanan warga dari rumah ke kantor, dari pasar ke dapur, atau dari pom bensin ke saldo rekening.

Bacaan Lainnya

Kelompok harga yang diatur pemerintah justru naik 1,41 persen pada Juni secara bulanan. Penyumbangnya bukan barang koleksi atau pernak-pernik gaya hidup kelas atas, melainkan bensin dan tarif angkutan udara.

Kenaikan itu berkaitan dengan penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan avtur di tengah tingginya harga energi global.

Satu Hari, Dua Pesan untuk Warga

Jadi, pada 1 Juli 2026, warga mendapat dua pengumuman besar sekaligus.

Pertama, wajah Anda harus jelas untuk membeli nomor baru.

Kedua, biaya hidup Anda akan tetap naik, meskipun wajah Anda sudah sangat jelas.

Barangkali di situlah keajaiban administrasi modern bekerja.

Sistem dapat mengenali kontur pipi, posisi mata, hingga lekuk hidung seseorang dalam hitungan detik. Tetapi ketika harga bensin merambat ke ongkos angkut, lalu masuk ke harga pangan, lalu menggerus pengeluaran rumah tangga, sistem tampaknya perlu rapat koordinasi, kelompok kerja, tim pengendalian, konferensi pers, dan beberapa infografik berwarna biru.

Teknologi memang punya keunggulan memilih persoalan yang paling mudah dibaca kamera.

Harga Hidup Tidak Bisa Dipindai Kamera

Wajah manusia relatif patuh. Ia tinggal menghadap depan, berkedip, tersenyum sedikit, lalu selesai.

Harga hidup jauh lebih bandel.

Ia tidak bisa diminta menatap kamera. Ia merayap lewat ongkos transportasi, biaya logistik, harga kebutuhan pokok, cicilan, biaya sekolah, tagihan listrik, dan semua pengeluaran kecil yang tidak pernah masuk pidato karena terlalu biasa untuk dianggap masalah besar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan