Natal dan Pelajaran Tidak Picik Beragama dari Mohammad Roem

Mohammad Roem. (Arsip Nasional)
Semua anak bangsa yang melek sejarah tentu sepakat jika nama Mohammad Roem identik dengan dalam alur historis perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dan dia bukan hanya seorang diplomat ulung, tetapi juga aktivis Islam yang sangat toleran.

Pria kelahiran Klewogan, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah ini adalah salah satu tokoh diplomasi Indonesia, yang berhasil mengantarkan negeri ini menuju gerbang kemerdekaan yang mendapat pengakuan penuh dunia Internasional.

Dia anggota delegasi Indonesia dalam perundingan Linggarjati pada 1946. Ia juga punya andil dalam Perundingan Renville pada 1948 dan turut menjadi anggota delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB).

Sebelum aktif di dunia perdiplomasian internasional, dia tercatat sebagai anggota Pergerakan Pemuda Islam (Jong Islamieten Bond) pada tahun 1925, juga aktif di Kepanduan Islam (National Indonesische Padvinderij) pada 1926.

Bacaan Lainnya

Laki-laki kelahiran 18 Mei 1908 ini juga aktif dalam kelompok studi Studenten Islam Studie Club. Dia juga aktif di PSII. Ketika Masyumi berdiri pada 1945, ia tercatat sebagai pendirinya.

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat, pernah menggambarkan Muhammad Roem sebagai diplomat dan Muslim ideal yang lapang dada, terbuka jiwa, hati, dan pikirannya tidak picik beragama.

Sedangkan menurut Djohan Effendi, dalam Merayakan Kebebasan Beragama: Bunga Rampai Menyambut 70 Tahun Djohan Effendi (2009), Roem digambarkan menjalin persahabatan akrab dan tulus dengan tokoh Katolik bernama Kasimo, serta dua orang tokoh Protestan, Dr. T.B Simatupang, dan Dr. Tambunan.

Dalam buku itu pula diceritakan bahwa ketika Natal tiba, Roem berkunjung ke rumah para sahabatnya itu. Demikian pula sebaliknya, ketika Roem merayakan Idulfitri, para koleganya mengunjungi dia.

Kisah toleransi Roem ini juga digambarkan oleh Jajang Nurjaman, pegawai Arsip Nasional.

Ceritanya, ketika menempuh studi S2 program Cosmopolis, Leiden University, Belanda, pada tahun 2012, Jajang menemukan sesuatu yang menarik saat membeli buku Bunga Rampai dari Sedjarah yang ditulis Roem, di sebuah toko buku di Leiden.

Dia buku itu dia menemukan sebuah kartu ucapan Natal dari Roem, lengkap dengan tandatangannya. Kartu ditulis tanggal 7 mei 1979.

Buku “Bungai Rampai Sedjarah” karaya Moh. Roem. (Istimewa)

Dalam kartu ada tulisan dari mesin ketik dengan ucapan, “With Best Wishes for Christmas and the New Year”, yang ditulis Roem untuk pembacanya. Di buku juga terdapat tanda-tangan dengan inisial v.d.s dengan tahun 1972.

Yang lebih menarik perhatian adalah kartu ucapan tersebut, Kartu itu bermotif kaligrafi, yang memiliki keterangan atau caption, “Hand – woven cloth from Cairo, Qur’an 112”. Surat 112 dalam Al-Quran adalah surat Al-Iklhas yang berkisah tentang ketauhidan, keesaan Allah sebagai Tuhan.

Rentang waktu antara kartu yang dikirim Roem dengan terbitnya buku kurang lebih 7 tahun. Di dalam buku ini juga terdapat potongan-potongan kliping koran belanda yang memuat berita-berita tentang Roem. Kebanyakan kliping bertahun 1983, tahun yang sama dengan wafatnya Moh. Roem.

Meski Roem merupakan seorang aktivis Islam yang serius—dia tergabung dalam Syariat Islam pada tahun 1924; menjadi aktivis Jong Islamieten Bond; menjadi aktivis SI pada 1925; dan di akhir kekuasaan Presiden Sukarno mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) bersama mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir—dia sangat menjunjung tinggi toleransi beragama dan praktik Bhinneka Tunggal Ika.

Roem pernah terpilih menjadi Ketua Umum Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) dalam Kongres Pertama di Malang, Jawa Timur, 4-7 November 1968. Tetapi, pemerintah saat itu kurang suka dengan bangkitnya Masyumi dan tidak merestui kepemimpinan Roem.

Kader H.O.S. Cokroaminoto dan H. Agus Salim ini pulang ke Sang Pencipta pada 24 September 1983, di usia 75 tahun, akibat gangguan paru-paru. Jenazahnya dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.***

 

 

 

 

 

 

Pos terkait