Survei Kemenag 2025 menunjukkan Gen Z mencatat indeks toleransi tertinggi dibanding generasi lain.
Kementerian Agama (Kementerian Agama Republik Indonesia) merilis hasil Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025. Hasilnya menunjukkan Generasi Z memiliki tingkat toleransi paling tinggi dibanding generasi Milenial, Generasi X, dan Baby Boomers.
Generasi Z, yang lahir antara 1998–2010, mencatat skor tertinggi dalam indikator sikap tidak membubarkan kegiatan keagamaan pihak lain. Indeks Gen Z mencapai 80,03, disusul Generasi X 78,97, Baby Boomers 78,81, dan Milenial 78,77.
“Data ini menunjukkan Gen Z memiliki kedewasaan sikap yang luar biasa dalam menghargai perbedaan. Mereka adalah generasi yang paling menolak praktik persekusi atau pembubaran kegiatan keagamaan pihak lain,” ujar Lilik Purwadi, Peneliti Alvara Strategic Research, dikutip dari laman Kemenag, Selasa (6/1/2026).
Implementasi Toleransi di Kehidupan Sehari-hari
Dalam indikator pengamalan toleransi, Gen Z kembali mencatat skor tertinggi dengan indeks 79,65. Angka ini berada di atas Milenial 79,07 dan Baby Boomers 78,63. Penilaian mencakup sikap tidak mencela agama lain, menolak ujaran kebencian, serta tidak melakukan persekusi.
Survei juga mencatat perbedaan kecil antara Gen Z perkotaan dan pedesaan pada dimensi ibadah. Skor Gen Z di perkotaan tercatat 78,83, sementara di pedesaan sedikit lebih tinggi, yakni 79,37.
Kemampuan Membaca Al-Qur’an
Selain toleransi, Kemenag mengukur kemampuan membaca Al-Qur’an. Hasilnya, Gen Z kembali unggul dengan skor 56,29. Skor ini lebih tinggi dibandingkan generasi Milenial 54,06, Generasi X 53,97, dan Baby Boomers 50,95.
Survei melibatkan 1.208 responden Muslim dari 34 provinsi. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling melalui wawancara tatap muka. Margin of error tercatat 2,89 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Gambaran Nasional dan Respons Kebijakan
Secara nasional, Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025 berada di angka 78,80 dan masuk kategori tinggi. Dimensi akhlak menjadi aspek dengan skor tertinggi, mencapai 81,88.
“Hasilnya cukup menggembirakan dan memberikan optimisme. Laporan ini idealnya menjadi acuan bagi para pengambil kebijakan untuk merumuskan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas kehidupan beragama di tanah air,” kata Arsad Hidayat, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag.





