Ribuan CPNS Kemenag Jatim resmi dilantik menjadi PNS. Mereka langsung diingatkan agar tidak korupsi waktu kerja dan tidak melayani rakyat dengan sombong.
Sebanyak 1.752 calon pegawai negeri sipil di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur resmi dilantik menjadi pegawai negeri sipil Formasi Tahun Anggaran 2024 di Aula Kanwil Kemenag Jatim, Kamis (21/5/2026).
Mengutip laman resmi Kanwil Kemenag Jatim, peserta yang hadir langsung berasal dari penempatan Kanwil Kemenag Jatim, Kemenag Kota Surabaya, dan Kemenag Kabupaten Sidoarjo.
Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang memberi arahan secara daring, mengajak para ASN baru memperkuat rasa syukur, loyalitas, dan solidaritas dalam pengabdian kepada negara. Ia juga menekankan pentingnya berbakti kepada orang tua.
Jaga Nama Baik ASN
Nasaruddin juga meminta ASN Kemenag menerapkan nilai ISTIQAMAH, yakni Ikhlas, Sabar, Tawadhu, Ihsan, Qanaah, Amanah, Akhlak, dan Hikmah. Nilai itu diharapkan menjadi pegangan dalam bekerja dan melayani masyarakat.
Kepala Badan Kepegawaian Negara Zudan Arif Fakrulloh mengingatkan para ASN agar menjaga integritas serta nama baik institusi. Ia menekankan empat orientasi pelayanan ASN: cepat, mudah, bermanfaat, dan membahagiakan masyarakat.
Sekretaris Jenderal Kemenag RI Kamaruddin Amin menyebut pengadaan ASN diarahkan untuk menghasilkan aparatur profesional, berintegritas, dan mampu memberi pelayanan publik yang prima.
Kamaruddin juga menyampaikan total formasi ASN Kemenag tahun ini mencapai 110.553 formasi. Jumlah itu terdiri atas 20.772 CPNS dan 89.781 pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja atau PPPK.
Jangan Korupsi Waktu
Kepala Kanwil Kemenag Jatim Akhmad Sruji Bahtiar menegaskan, status baru sebagai PNS harus dibaca sebagai amanah pelayanan, bukan ruang untuk merasa lebih tinggi dari masyarakat. Ia meminta ASN meluruskan niat bekerja sebagai ibadah.
“Apa artinya kepintaran jika tidak dibarengi kerendahan hati dan sopan santun. Jangan melayani dengan sombong. Waktu kerja ASN adalah milik rakyat. Jangan dikorupsi. Kita ini pelayan, bukan penguasa,” tegas Akhmad, Kamis (21/5/2026).





