Perayaan Nyepi dan Idulfitri 2026 yang berlangsung beriringan menjadi momentum penguatan moderasi beragama di Indonesia.
Tahun 2026 menghadirkan fenomena unik dalam kalender hari besar keagamaan di Indonesia. Hari Raya Nyepi dan Idulfitri 1447 Hijriah berlangsung secara beriringan. Peristiwa ini menarik perhatian banyak pihak sebagai potret nyata keragaman dan nilai toleransi yang telah lama mengakar di tengah masyarakat.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Listiyono Santoso, SS., M.Hum., menyatakan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya sudah terbiasa hidup dalam lingkungan yang heterogen. Menurutnya, pertemuan dua hari besar ini bukanlah hal baru, melainkan pengulangan tradisi rukun yang sudah lama ada.
“Hal ini sudah lama mendapat sambutan baik di kalangan masyarakat Indonesia yang memang sejak awal sudah hidup dengan beragam perbedaan,” ungkap Dr. Listiyono pada Kamis (19/3/2026).
Memahami Makna Tolerare
Sebagai Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Jawa Timur, Dr. Listiyono mengajak publik untuk kembali menilik akar kata toleransi, yakni tolerare. Secara harfiah, istilah ini berarti sikap sabar dan menahan diri. Dalam konteks modern, toleransi berarti memberikan ruang aman bagi pemeluk keyakinan lain untuk merayakan hari besar mereka tanpa gangguan.
Ia menegaskan bahwa konstitusi Indonesia menjamin kebebasan beribadah bagi setiap warga negara. Negara hadir untuk memastikan setiap prosesi keagamaan berjalan aman, dan setiap individu berkewajiban menjaga ketenangan ibadah orang lain.
“Masyarakat Indonesia secara alamiah tumbuh dan besar dalam perbedaan-perbedaan yang ada. Ini yang membedakan kita dengan negara-negara di Eropa,” imbuh Wakil Dekan II FIB UNAIR tersebut.
Pesan untuk Gen-Z: Lestarikan Heterogenitas
Menghadapi tantangan zaman, Dr. Listiyono memberikan pesan khusus kepada generasi muda, terutama Gen-Z, agar proaktif melestarikan tradisi toleransi. Ia menyarankan agar anak muda lebih sering terlibat dalam kegiatan lintas iman untuk mempertebal rasa kebersamaan.
“Generasi muda harus siap untuk hidup dalam ruang-ruang perbedaan. Biasakan diri untuk terlibat dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat heterogenitas agar penerimaan perbedaan terasa lebih mudah,” pungkasnya.
Dengan saling menghargai di tengah perayaan Nyepi yang sunyi dan Idulfitri yang penuh kemenangan, bangsa Indonesia kembali membuktikan identitasnya sebagai laboratorium toleransi dunia.***





