Natal dan Pelajaran Tidak Picik Beragama dari Mohammad Roem

Mohammad Roem. (Arsip Nasional)

Dia buku itu dia menemukan sebuah kartu ucapan Natal dari Roem, lengkap dengan tandatangannya. Kartu ditulis tanggal 7 mei 1979.

Buku “Bungai Rampai Sedjarah” karaya Moh. Roem. (Istimewa)

Dalam kartu ada tulisan dari mesin ketik dengan ucapan, “With Best Wishes for Christmas and the New Year”, yang ditulis Roem untuk pembacanya. Di buku juga terdapat tanda-tangan dengan inisial v.d.s dengan tahun 1972.

Yang lebih menarik perhatian adalah kartu ucapan tersebut, Kartu itu bermotif kaligrafi, yang memiliki keterangan atau caption, “Hand – woven cloth from Cairo, Qur’an 112”. Surat 112 dalam Al-Quran adalah surat Al-Iklhas yang berkisah tentang ketauhidan, keesaan Allah sebagai Tuhan.

Bacaan Lainnya

Rentang waktu antara kartu yang dikirim Roem dengan terbitnya buku kurang lebih 7 tahun. Di dalam buku ini juga terdapat potongan-potongan kliping koran belanda yang memuat berita-berita tentang Roem. Kebanyakan kliping bertahun 1983, tahun yang sama dengan wafatnya Moh. Roem.

Meski Roem merupakan seorang aktivis Islam yang serius—dia tergabung dalam Syariat Islam pada tahun 1924; menjadi aktivis Jong Islamieten Bond; menjadi aktivis SI pada 1925; dan di akhir kekuasaan Presiden Sukarno mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) bersama mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir—dia sangat menjunjung tinggi toleransi beragama dan praktik Bhinneka Tunggal Ika.

Roem pernah terpilih menjadi Ketua Umum Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) dalam Kongres Pertama di Malang, Jawa Timur, 4-7 November 1968. Tetapi, pemerintah saat itu kurang suka dengan bangkitnya Masyumi dan tidak merestui kepemimpinan Roem.

Kader H.O.S. Cokroaminoto dan H. Agus Salim ini pulang ke Sang Pencipta pada 24 September 1983, di usia 75 tahun, akibat gangguan paru-paru. Jenazahnya dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.***

 

 

 

 

 

 

Pos terkait