Aktivitas belanja dan kemacetan menjadi bukti kuat ekonomi Indonesia justru makin melesat tajam.
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menepis keras ramalan sejumlah ekonom. Prediksi bahwa Indonesia akan segera masuk jurang resesi dinilai tidak berdasar. Fakta di lapangan menunjukkan roda ekonomi justru bergerak makin kencang.
Tingginya aktivitas masyarakat menjelang Lebaran menjadi bukti nyata. Pusat perbelanjaan penuh sesak dan jalan raya di berbagai daerah mengalami kemacetan parah. Kondisi ini mencerminkan daya beli masyarakat yang masih sangat prima.
Kecemasan publik sebelumnya memang sempat menguat. Pemicunya adalah eskalasi konflik berdarah di Timur Tengah. Ketegangan ini ditakutkan memicu lonjakan harga minyak dunia secara ekstrem dan menghantam perekonomian domestik.
Pemerintah memastikan ketakutan tersebut tidak terbukti. Saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Purbaya menegaskan stabilitas ekonomi nasional tetap kokoh dan sangat jauh dari ancaman krisis mematikan.
“Siapa yang bilang krisis? Di mana-mana macet, orang belanja. Artinya daya beli masih ada,” ujar Purbaya di Istana Kepresidenan, Jakarta pada Jumat (27/3/2026).
Ia menambahkan bahwa perekonomian nasional sama sekali belum melambat. “Jadi kita jauh dari krisis, kita malah ekspansi terus. Resesi saja belum, melambatnya saja belum. Kita sedang mengalami akselerasi,” jelas Menteri Keuangan.
Bantalan Anggaran Penahan Krisis
Kekuatan utama Indonesia saat ini terletak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. APBN dirancang khusus sebagai peredam kejut guna menahan imbas gejolak harga komoditas energi global. Strategi fiskal ini terbukti sangat ampuh.
Konsumsi domestik kembali tampil sebagai pahlawan ekonomi nasional. Permintaan dalam negeri ini menyumbang lebih dari 90 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Sektor ini menjadi jangkar utama penahan kepanikan pasar keuangan.
Purbaya turut menyentil para analis yang dinilai asal melempar proyeksi suram. Skenario harga minyak menembus 200 dolar AS per barel dinilai tidak realistis jika tidak memperhitungkan kekuatan bantalan ekonomi milik Indonesia.





