Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan penguatan fondasi ekonomi menjadi kunci utama menjaga stabilitas rupiah.
Purbaya menyampaikan bahwa stabilitas nilai tukar akan lebih mudah dijaga selama kondisi fundamental ekonomi nasional tetap kuat. Pernyataan ini disampaikan usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (10/3/2026).
“Selama fondasi ekonomi kita bagus, mengendalikan rupiah lebih mudah dibandingkan jika kondisi ekonomi sedang tidak baik,” ujarnya.
Pemerintah bersama otoritas moneter terus menjaga koordinasi guna memastikan stabilitas sistem keuangan. Langkah yang dilakukan antara lain menjaga likuiditas di sistem keuangan tetap memadai serta melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan nilai tukar.
Menurut Purbaya, kerja sama solid antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menjadi faktor penting meredam gejolak pasar global.
“Kalau kita memastikan perkembangan ekonomi baik, likuiditas di sistem cukup, dan BI memonitor kondisi nilai tukar, maka kerja sama yang baik antara pemerintah dan BI sangat penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Jika koordinasi seperti ini terjaga, gejolak pasar global tidak akan terlalu sulit dikendalikan,” kata Purbaya.
Subsidi Energi Masih Aman
Purbaya juga menanggapi kekhawatiran dampak kenaikan harga minyak global terhadap anggaran subsidi energi, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri. Ia menegaskan kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat menyerap kenaikan harga energi dalam beberapa hari terakhir.
“Kita masih aman, masih kuat. Kenaikan ini baru terjadi beberapa hari. Subsidi energi dihitung untuk satu tahun penuh, dengan asumsi rata-rata harga sekitar 70 dolar AS per barel. Jadi kenaikan beberapa hari ini belum cukup mengubah anggaran kita. Kita masih bisa menyerapnya,” ujarnya.
Pemerintah optimistis koordinasi yang erat akan menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global yang memanas.***





