Bek Persebaya Surabaya asal Papua, Mikael Alfredo Tata, menjadi sasaran komentar rasis di media sosial setelah laga melawan Persib Bandung. Akademisi menilai praktik rasisme di Indonesia masih dipengaruhi pola pikir warisan penjajah.
Beberapa warganet menuliskan komentar yang dianggap menghina secara rasial, seperti menyebut kata-kata yang merendahkan dan mengaitkannya dengan stereotip terhadap orang Papua.
Kasus rasisme terhadap pemain sepak bola masih terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir, baik di level internasional maupun nasional.
Di Eropa, bintang Real Madrid Vinícius Júnior beberapa kali menjadi korban hinaan rasial saat bertanding. Di Indonesia, insiden serupa juga muncul dalam laga Atlético Madrid U18 melawan Bali United U18.
Kasus rasisme juga dialami pemain Madura United, Denilson Junior dan Gabriel Mutombo yang mengaku menerima perlakuan rasial dari oknum suporter Persib Bandung.
Belum lama ini, serangan rasis juga dialami bek Persebaya Surabaya asal Sentani, Papua, Mikael Alfredo Tata. Insiden tersebut muncul setelah pertandingan antara Persib Bandung dan Persebaya Surabaya.
Sejumlah komentar bernada rasis terlihat di media sosial setelah pertandingan tersebut. Beberapa warganet menuliskan komentar yang dianggap menghina secara rasial, seperti menyebut kata-kata yang merendahkan dan mengaitkannya dengan stereotip terhadap orang Papua.
Akademisi Soroti Warisan Mental Penjajah
Menanggapi hal tersebut, Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Radius Setiyawan, menyampaikan bahwa praktik rasisme sebenarnya masih sering terjadi di ruang publik Indonesia.
“Selalu saja terulang, lagi-lagi ruang publik kita dikotori tindakan rasis,” ujar Radius, dikutip Rabu (11/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa dalam konteks Indonesia, sasaran rasisme kerap mengarah pada kelompok masyarakat berkulit gelap, khususnya saudara-saudara kita yang ada di Timur.
“Dalam konteks Indonesia, sasaran rasisme biasanya menyasar orang dengan kulit berwarna atau hitam. Yang paling sering menimpa saudara-saudara kita di Papua,” terangnya.





