Bek Persebaya Mikael Tata Jadi Sasaran Rasisme, Akademisi Soroti Mental Warisan Penjajah

Mikael Tata. - Instagram Persebaya

Menurut Radius, cara pandang rasisme tersebut tidak bisa dilepaskan dari warisan pola pikir penjajah yang masih tersisa hingga hari ini.

Dalam perspektif penjajah, masyarakat kulit hitam sering ditempatkan sebagai kelompok yang dianggap belum maju, terbelakang, atau bahkan dijadikan bahan hinaan dan lelucon.

Ia menilai persoalan rasisme hingga kini belum menjadi perhatian serius negara, sehingga tindakan merendahkan kelompok etnis tertentu masih kerap terjadi di ruang publik.

Bacaan Lainnya

“Mental rasis mengendap sekian lama dan mengharuskan kita selalu memiliki keinginan untuk menghina bahkan menundukkan siapa saja yang dianggap rendah. Ini persoalan akut bangsa ini,” tegasnya.

Kesetaraan Jadi Fondasi Bangsa

Padahal, lanjut Radius, salah satu fondasi utama negara demokratis adalah pengakuan atas kesetaraan di tengah berbagai perbedaan.

Indonesia sebagai negara multikultural tidak akan berkembang jika praktik diskriminasi seperti rasisme masih terus terjadi dan dibiarkan.

“Kemanusiaan harus menjadi nilai utama dalam membangun keindonesiaan. Masyarakat dengan warna kulit apa pun harus diposisikan sebagai bangsa yang sama dan memiliki hak yang sama pula,” ujarnya.

Radius menegaskan bahwa negara perlu hadir secara lebih serius untuk mengurai persoalan tersebut, salah satunya melalui pendidikan dan penguatan nilai budaya yang menjunjung kesetaraan.

“Jika dibiarkan, ruang publik kita akan terus tercemar oleh tindakan rasis yang memalukan,” tandasnya.***

Pos terkait