Setelah lebih dari 42 tahun berkarier di Bank Indonesia (BI), mulai sebagai staf pada 1984, menjabat Deputi Gubernur, hingga memimpin bank sentral selama hampir tujuh tahun, Perry Warjiyo resmi mengakhiri pengabdiannya. Pemerintah menerima surat pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia pada Senin (27/7/2026).
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah segera memproses penerbitan Keputusan Presiden (Keppres) tentang pemberhentian secara hormat Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur BI.
“Bapak Presiden menerima pengunduran diri dari Bapak Perry Warjiyo. Tentu disertai dengan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dedikasi beliau selama kurang lebih tujuh tahun lamanya memimpin Bank Indonesia,” ujar Prasetyo dalam konferensi pers di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/7).
Sesuai ketentuan perundang-undangan, jabatan Gubernur Bank Indonesia untuk sementara dijalankan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti hingga proses pengisian jabatan definitif selesai.
Dalam konferensi pers tersebut, Prasetyo didampingi Penjabat (Pj.) Gubernur BI Destry Damayanti bersama para Deputi Gubernur BI, yakni Aida S. Budiman, Filianingsih Hendarta, Ricky P. Gozali, dan Thomas Djiwandono.
Pengunduran diri itu sekaligus mengakhiri perjalanan panjang Perry Warjiyo di Bank Indonesia yang telah berlangsung lebih dari 40 tahun. Selama kariernya, ia dikenal sebagai salah satu perancang kebijakan moneter Indonesia sekaligus tokoh yang mendorong penguatan stabilitas sistem keuangan nasional.
Menurut laman Bank Indonesia, Perry Warjiyo lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 1959. Dia menyelesaikan pendidikan Sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1982. Ia kemudian melanjutkan studi ke Iowa State University, Amerika Serikat, hingga meraih gelar Master pada 1989 dan doktor (Ph.D.) pada 1991.
Kariernya di Bank Indonesia dimulai pada 1984. Selama bertugas, Perry dipercaya menangani berbagai bidang strategis, mulai riset ekonomi, kebijakan moneter, hubungan internasional, pengelolaan devisa dan utang luar negeri, pendidikan kebanksentralan, hingga transformasi organisasi.
Pada 2007–2009, Perry mendapat penugasan sebagai Direktur Eksekutif International Monetary Fund (IMF). Dalam posisi tersebut, ia mewakili 13 negara anggota yang tergabung dalam South-East Asia Voting Group.
Sepulang dari IMF, Perry kembali ke Bank Indonesia sebagai Asisten Gubernur yang membidangi kebijakan moneter, makroprudensial, dan internasional sekaligus Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter pada 2009–2013. Kariernya berlanjut sebagai Deputi Gubernur BI periode 2013–2018 sebelum dipercaya menjadi Gubernur Bank Indonesia pada 2018.
Perry memimpin BI pada periode 2018–2023 dan kembali memperoleh kepercayaan untuk masa jabatan 2023–2028 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 38/P Tahun 2023. Namun, masa jabatan keduanya berakhir lebih cepat setelah pemerintah mengumumkan telah menerima surat pengunduran dirinya pada Senin (27/7/2026).
Deretan Penghargaan
Selama memimpin Bank Indonesia, Perry Warjiyo menerima berbagai penghargaan nasional maupun internasional. Di antaranya Governor of the Year Asia-Pacific 2019 dari Global Markets, Anugerah Hamengku Buwono IX dari Universitas Gadjah Mada pada 2022, Pemimpin Terpopuler di Media Arus Utama 2022 dari Serikat Perusahaan Pers, serta Pemimpin Terpopuler di Media Pemberitaan Online 2023 dari Indonesia Government Awards.
Di bawah kepemimpinannya, Bank Indonesia juga meraih berbagai penghargaan bergengsi. Beberapa di antaranya The Best Central Bank of the Year dari Global Islamic Finance Awards (2018 dan 2022), Best Asset Owner in Southeast Asia dari AsianInvestor (2022), Global Top Ranking Performers dari Central Banking Publications (2021), The Best Macroeconomic Regulator in Asia Pacific (2020), The Best Systemic and Prudential Regulator in Asia Pacific dari The Asian Banker (2021), predikat Certified World Class dari Contact Center World pada 2021 dan 2022, serta Gold Winner Stevie Asia-Pacific Awards 2020 untuk inovasi pengembangan teknologi.
Selain berkiprah sebagai bankir sentral, Perry juga aktif menulis buku, jurnal, dan makalah ilmiah di bidang ekonomi, moneter, serta isu internasional. Sejumlah karyanya yang dikenal luas antara lain Central Bank Policy Mix: Issues, Challenges, and Policy Responses (2020), Kebijakan Bank Sentral: Teori dan Praktik (2016), dan Kebijakan Moneter di Indonesia (2003).***





