Temuan arkeologi Bongal menguatkan jejak awal Islam di pesisir Sumatera sejak abad ke-7.
Narasi kejayaan Islam selama ini kerap berpusat pada Timur Tengah. Namun buku berjudul Indonesia Titik Tolak Kejayaan Islam dan Kebangkitan Tasawuf Dunia Berdasar Nubuat Kitab Suci & Manuskrip Kuno Nusantara menawarkan sudut pandang berbeda.
Penulis menempatkan Nusantara bukan sebagai wilayah pinggiran, melainkan sebagai simpul penting dalam sejarah spiritualitas global.
Situs Bongal dan Jejak Abad ke-7
Sorotan utama buku ini tertuju pada Situs Bongal di Tapanuli Tengah. Lokasi ini memunculkan temuan arkeologis yang dinilai mengguncang teori lama tentang masuknya Islam ke Indonesia.
Sejumlah artefak ditemukan di kawasan tersebut. Di antaranya koin dari Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, keramik Persia, hingga kaca Suriah.
Temuan itu menunjukkan bahwa sejak abad ke-7 hingga ke-10, pesisir barat Sumatera telah terhubung dengan jaringan perdagangan internasional.
Fakta ini memperkuat pandangan bahwa Islam hadir melalui jalur damai. Perdagangan, interaksi sosial, dan hubungan antarkomunitas menjadi medium penyebaran utama. Bukan ekspansi militer.
Islam tumbuh di ruang-ruang keseharian. Di pelabuhan kecil. Di pasar rakyat.
Tasawuf dan Pola Dakwah Inklusif
Buku ini juga mengulas peran tasawuf dalam pembentukan karakter Islam di Nusantara. Penulis menekankan bahwa pendekatan dakwah di wilayah ini berlangsung melalui proses akulturasi.
Struktur sosial dan budaya lokal tidak diruntuhkan. Sebaliknya, ia dirangkul dan dihidupkan kembali dalam nilai-nilai Islam.
Model inilah yang kemudian membentuk wajah Islam yang moderat dan inklusif di Indonesia. Karakter yang lentur itu dinilai menjadi fondasi penting dalam dinamika spiritual global masa kini.
Catatan sejarah turut memperkuat gambaran tersebut. Penjelajah Swiss, Johann Ludwig Burckhardt, dalam catatannya tahun 1814 menyebut komunitas “Orang Jawi” di Makkah dikenal disiplin dan tekun menuntut ilmu.
Ia mencatat jemaah asal Nusantara hidup sederhana. Mereka membawa bekal sendiri, mengonsumsi makanan hemat, dan fokus memperdalam Al-Qur’an di Tanah Suci.





