Mengukir Ulang Jejak Emas Sang Wali: Haul Ke-110 KH Abdul Jalil Jadi Momen Spiritualitas dan Silaturahmi

Suasana menjelang haul KH. Abdul Jalil. | FOTO. Tangkapan Layar Youtube
Ratusan keturunan KH Abdul Jalil berkumpul di Pesantren Raudlatut Thalibin, Semarang, Ahad, 20 Juli 2025, dalam Haul ke-110 untuk mengenang warisan ilmu, akhlak, dan perjuangan sang waliyullah.

__________

Di bawah langit cerah, halaman Pesantren Raudlatut Thalibin, Jetis, Gentan, Susukan, Kabupaten Semarang, dipenuhi wajah-wajah penuh haru dan rindu. Hari itu, Ahad, 20 Juli 2025 atau bertepatan dengan 24 Muharram 1447 H, keluarga besar KH. Abdul Jalil menggelar Haul ke-110 sang mahaguru. Tema yang diangkat menggema penuh makna: “Mengukir Kembali Tinta Emas Jejak Peninggalan Poro Simbah.”

Silaturahmi dan keguyuban memancar dalam suasana hangat dan penuh berkah. Zikir, tahlil, dan doa menyatu dalam irama spiritual yang mengikat batin para anak cucu keturunan sang wali. Tak sekadar mengenang, haul ini menjadi ruang bersama untuk meneguhkan kembali akar nilai dan perjuangan yang diwariskan KH. Abdul Jalil.

Bacaan Lainnya

“Haul bukan hanya tradisi. Ini adalah tasawuf, ini adalah kerinduan. Kita seolah ingin kembali ke masa ketika para ashabul haul hidup dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk umat,” ujar M. Nazil Iqdami, salah satu cicit KH Abdul Jalil.

Bagi Nazil, haul adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Sebuah ajang spiritual untuk menyegarkan kembali kesadaran akan warisan perjuangan. Sosok KH Abdul Jalil, menurutnya, hadir di masa lalu sebagai solusi atas kegelisahan umat, dan tetap hidup dalam nilai-nilai yang diwariskannya.

Khadzik Misja, cicit lainnya, menambahkan bahwa haul tak hanya berbicara dunia yang kasat mata. Ia menjadi medium penghubung antara alam dunia dan alam akhirat. “Doa-doa yang kita panjatkan diyakini membawa manfaat bagi para arwah, sekaligus keberkahan bagi yang masih hidup,” tuturnya.

Ketua Ikatan Bani Abdul Jalil (IBAD), Muhammad Maftuh, mengingatkan pentingnya menjaga jejak sejarah keluarga. KH. Abdul Jalil, katanya, bukan sekadar tokoh, tapi waliyullah yang hidupnya diabdikan sepenuhnya untuk dakwah dan perbaikan umat, khususnya di wilayah Jawa Tengah.

“Siapa yang melupakan jasa leluhurnya, akan dilaknat sejarah. Bahkan malaikat pun akan tertegun melihat orang yang begitu ikhlas dalam perjuangannya,” ujar Maftuh, mengutip ucapan para guru.

Menelusuri Jejak KH. Abdul Jalil

KH Abdul Jalil bin KH Abdul Azis Candrareja bukan nama sembarangan dalam khazanah keulamaan Nusantara. Ia adalah murid dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, ulama besar sekaligus mufti Mekkah di abad ke-19, yang dikenal dengan gelar-gelar kehormatan seperti Bahr al-Akmal (Lautan Kesempurnaan) dan Ka’bat al-Murīdīn (Tumpuan para murid).

Sezaman dengan tokoh-tokoh besar seperti Kiai Nawawi al-Bantani, Kiai Saleh Darat, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, hingga Tuan Guru Babussalam, KH Abdul Jalil turut mengukir jejak emas keulamaan Nusantara. Ia menghabiskan delapan tahun menimba ilmu di tanah suci Mekkah, berguru pula kepada sejumlah syekh terkemuka seperti Syaikh Bakri, Syaikh Amin al-Fatwa, dan Syaikh Nahrawi al-Makkiy.

Namun, kisah kepulangannya ke tanah air memiliki bab tersendiri. Ia sempat enggan pulang, ingin terus belajar dan mengabdi di Mekkah. Namun, karena permintaan mertuanya, KH. Muhammad Razi, dan restu langsung dari gurunya Sayyid Zaini Dahlan, Abdul Jalil akhirnya kembali ke tanah air. Ia tiba di Petak pada tahun 1877, membawa ajaran Tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah ke bumi Jawa.

Melalui baiat tarekat kepada al-‘Arif Billah Syaikh Sulaiman Zuhdi al-Makki, KH Abdul Jalil mencapai maqam mursyid. Dari sinilah, ajaran Naqsyabandiyyah Khalidiyyah berkembang pesat ke berbagai daerah: Boyolali, Grobogan, Salatiga, Magelang, hingga daerah-daerah lainnya. Bahkan, mertuanya pun ikut berbaiat kepada sang menantu.

KH Abdul Jalil wafat dalam usia sekitar 80 tahun, pada tahun 1335 H atau 1916 M. Tapi pengaruhnya tidak ikut terkubur. Ia terus hidup dalam laku, ilmu, dan teladan para anak cucu serta murid-muridnya. Haul ke-110 ini menjadi penegas: bahwa tinta emas perjuangannya tak pernah pudar.

Haul ini bukan akhir dari peringatan. Ia adalah awal dari kebangkitan nilai. Di tengah derasnya arus zaman, keluarga besar KH Abdul Jalil memilih untuk menoleh ke belakang bukan untuk terjebak, tapi untuk meneguhkan langkah ke depan dengan jejak para simbah sebagai kompas.***

Pos terkait