Ratusan keturunan KH Abdul Jalil berkumpul di Pesantren Raudlatut Thalibin, Semarang, Ahad, 20 Juli 2025, dalam Haul ke-110 untuk mengenang warisan ilmu, akhlak, dan perjuangan sang waliyullah.
__________
Di bawah langit cerah, halaman Pesantren Raudlatut Thalibin, Jetis, Gentan, Susukan, Kabupaten Semarang, dipenuhi wajah-wajah penuh haru dan rindu. Hari itu, Ahad, 20 Juli 2025 atau bertepatan dengan 24 Muharram 1447 H, keluarga besar KH. Abdul Jalil menggelar Haul ke-110 sang mahaguru. Tema yang diangkat menggema penuh makna: “Mengukir Kembali Tinta Emas Jejak Peninggalan Poro Simbah.”
Silaturahmi dan keguyuban memancar dalam suasana hangat dan penuh berkah. Zikir, tahlil, dan doa menyatu dalam irama spiritual yang mengikat batin para anak cucu keturunan sang wali. Tak sekadar mengenang, haul ini menjadi ruang bersama untuk meneguhkan kembali akar nilai dan perjuangan yang diwariskan KH. Abdul Jalil.
“Haul bukan hanya tradisi. Ini adalah tasawuf, ini adalah kerinduan. Kita seolah ingin kembali ke masa ketika para ashabul haul hidup dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk umat,” ujar M. Nazil Iqdami, salah satu cicit KH Abdul Jalil.
Bagi Nazil, haul adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Sebuah ajang spiritual untuk menyegarkan kembali kesadaran akan warisan perjuangan. Sosok KH Abdul Jalil, menurutnya, hadir di masa lalu sebagai solusi atas kegelisahan umat, dan tetap hidup dalam nilai-nilai yang diwariskannya.
Khadzik Misja, cicit lainnya, menambahkan bahwa haul tak hanya berbicara dunia yang kasat mata. Ia menjadi medium penghubung antara alam dunia dan alam akhirat. “Doa-doa yang kita panjatkan diyakini membawa manfaat bagi para arwah, sekaligus keberkahan bagi yang masih hidup,” tuturnya.
Ketua Ikatan Bani Abdul Jalil (IBAD), Muhammad Maftuh, mengingatkan pentingnya menjaga jejak sejarah keluarga. KH. Abdul Jalil, katanya, bukan sekadar tokoh, tapi waliyullah yang hidupnya diabdikan sepenuhnya untuk dakwah dan perbaikan umat, khususnya di wilayah Jawa Tengah.





